Takut Jalan Tambah Ruwet, Warga Ponorogo Tolak Pembangunan SMP IT

Warga Ponorogo menolak pembangunan sekolah, Selasa (13/8/2019). - (Detik.com)
13 Agustus 2019 17:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, PONOROGO –Khawatir jalanan tambah ruwet, puluhan warga di Jl. Tangkuban Perahu, Kelurahan Nogolaten, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Selasa (13/8/2019), berdemo menentang pembangunan SMP Islam Terpadu Qurrota A'yun di lingkungan mereka.

Warga dari tiga kelurahan, yakni Kelurahan Nologaten, Cokromenggalan, dan Banyudono, ini membawa spanduk bertulisan: "Warga menolak pembangunan SMP IT", "Sampai kapan pun warga menolak", "Membangun tanpa izin warga", dan lain-lain. Mereka menyuarakan keresahan hati meski pihak sekolah tengah melakukan acara seremonial.

"Awalnya warga mendengar mau dibangun sekolahan, itu lama. Sampai kami dapat informasi di sini ada acara mau pembangunan, kami tidak terima," tutur salah satu warga, Agus, saat dimintai konfirmasi detik.com, Selasa.

Menurut warga, kondisi jalanan di kampung mereka akan semakin ramai jika sekolah itu dibangun. Bahkan saat ini saja jalan di lingkungan mereka sering terjadi kesemrawutan. Padahal jalan mereka bukan jalan besar, melainkan jalan kampung.

"Masalah utamanya sudah overload, lembaga pendidikan ini berdekatan. Kita melihat ke depan, kalau sekolah berdekatan, tidak baik. Kedua, jalanan kondisi kampung sudah enggak bisa nampung warga dari luar," terang dia.

Warga menuntut pembangunan sekolah dihentikan. Karena khawatir persaingan sekolah lama dengan yang baru tidak akan berjalan sehat. Begitupun kondisi jalan raya yang semakin padat.

"Ini harus disetop, jangan ditambah lagi sekolahnya. Ini suara warga tiga kelurahan," tandas dia.

Pantauan detik.com, ada beberapa sekolah yang lokasinya berdekatan, yakni Pondok Pesantren Durisawo, TK, SDIT Qurrota A'yun, MI Bina Putra Cendikia, dan SMK Pembangunan.

Sementara itu Kepala SMP IT Qurrota A'yun, Arif Yeni Varianto, mengaku sudah mengantongi legalitas pendirian bangunan sekolah sejak 2012. Ia menjelaskan pembangunan itu bukan membangun SMP baru, melainkan memindahkan SMP lama yang satu lokasi dengan SD.

"Alhamdulillah perkembangan baik, namun posisi kelas terbatas. Ketika yayasan ada amanah, di sini kita berencana memang pengembangan ke sini," papar dia.

Hanya, lanjut Arif, pihaknya masih perlu berdiskusi dengan pihak yayasan terkait dokumen kelengkapan lahan baru. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman dengan warga terkait masalah ini.

"Ketika ada aksi seperti ini, nanti kami sampaikan ke yayasan. Kebetulan ketua yayasan sedang berhaji," imbuhnya.

Meski terjadi penolakan warga, pihak SMP sudah menggelar tasyakuran proses pembangunan. Hal inilah yang memicu warga melakukan aksi penolakan.

"Sebelum kejadian ini kan surat kita sebar, enggak mungkin enggak jadi. Meski rangkaian acara kurang lengkap," tukasnya.

Arif menegaskan akan melihat situasi dan kondisi ke depan. Apakah pembangunan tetap dilanjutkan atau diberhentikan. Menunggu keputusan dari yayasan serta pendapat dari masyarakat.

Sumber : detik.com