Kisah Bongpay Sambirejo Madiun, Transaksi di Warung Kopi "Eksekusi" di Atas Makam

Wakil Ketua RW 002, Desa Sambirejo, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Rudi Rusmawan, menunjukkan kondom bekas yang ditemukan di salah satu kijing di permakaman Tionghoa di Desa Sambirejo, Jumat (9/8/2019). - (Abdul Jalil - Madiunpos.com)
10 Agustus 2019 11:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

 Madiunpos.com, MADIUN -- Tempat lokalisasi ilegal Bongpay Sambirejo atau bong cino di pertigaan Sambirejo, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Madiun dan sekitarnya. Bahkan tempat lokalisasi ilegal itu lebih terkenal dengan lokalisasinya kaum waria atau wanita pria.

Ini karena di lokasi itu saat tengah malam banyak waria yang mangkal di pinggir jalan untuk menjajakan tubuhnya. Selain itu, lokalisasi ini dikabarkan sudah berusia sekitar setengah abad. Sehingga citra negatif di kawasan itu sangat kental.

Kalau biasanya lokalisasi pada umumnya berada di komplek perumahan atau warung. Tetapi tidak di Sambirejo. Lokalisasi ini justru berada di kawasan permakaman. Bahkan mereka bercinta di atas batu nisan makam warga Tionghoa itu. Seperti diketahui makam warga Tionghoa biasanya besar, lebar, serta berkeramik.

Penelusuran Madiunpos.com di lokasi pemakaman tersebut, Jumat (9/8/2019), nisan-nisan berukuran besar dan lebar tertanam di lokasi itu. Rumput liar setinggi hampir satu meter sebagian menutupi nisan.

Di sela-sela nisan itu terlihat ada belasan bungkus kondom. Selain itu, juga kondom bekas yang tercecer di dekat nisan. Bau pesing dan bacin menyeruak di salah satu nisan yang ditemukan kondom bekas itu. Diperkirakan pernah ada pasangan yang bercinta di atas nisan itu.

Wakil Ketua RW 002, Desa Sambirejo, Kecamatan Jiwan, Rudi Rusmawan, mengatakan para PSK menjajakan dirinya di pinggir jalan dekat makam. Setelah mendapatkan pelanggan dan harganya cocok, kemudian mereka bercinta di nisan bongpay.

"Mereka transaksinya di pinggir jalan dan di warung kopi. Kemudian eksekusinya di sini [nisan]," kata dia.

Rudi menuturkan saat ini banyak waria yang menjajakan layanan esek-esek di kawasan itu bersama wanita penghibur. Namun, biasanya para waria itu beroperasi tengah malam.

Dia menyebut para waria ini merupakan pindahan dari Stadion Wilis Madiun. Setelah kegiatan prostitusi di kawasan stadion dibongkar, lantas mereka beralih ke kawasan Bongpay.

"Yang waria ini pindahan dari Stadion Wilis. Setelah sana ditutup. Mereka kemudian pindah ke sini," ujarnya.

Para penyedia layanan seks baik wanita maupun waria di lokasi itu, kata dia, bukan orang Sambirejo. Mereka diduga berasa dari luar daerah. Untuk jumlahnya sendiri tidak diketahui. Karena pemerintah belum pernah melakukan pendataan itu.

 "Mereka tinggal di mana juga kami tidak tahu. Soalnya memang tidak pernah ada pendataan," kata dia.

 Bupati Madiun, Ahmad Dawami Ragil Saputro, mengatakan sebelum membersihkan Bongpay Sambirejo, pihaknya terlebuh dahulu telah bertemu masyarakat sekitar lokalisasi ilegal itu. Masyarakat sepakat dengan rencana penutupan tempat maksiat tersebut.

 Kaji Mbing, sapaan akrab bupati, menceritakan dirinya telah sembilan kali mendatangi lokalisasi Bongpay tersebut diam-diam. Dari hasil pengamatan itu, kondisi lokasi tersebut sangat tidak layak dan bisa merusak moral. Untuk itu, diputuskan menutup tempat prostitusi tersebut.

 "Kami mengajak masyarakat sekitar juga untuk menutup tempat ini. Masyarakat juga resah dengan adanya perilaku menyimpang yang ada di tempat pemakaman itu," kata dia.