Warga Geram Ada Gadis Desa yang "Ditawar" saat Melewati Bongpay Sambirejo Madiun

Petugas dari berbagai unsur seperti Satpol PP, TNI, Polri, dan dibantu masyarakat merobohkan warung kopi yang menjadi tempat mangkal para PSK di kawasan pemakaman etnis Tionghoa di Desa Sambirejo, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Jumat (9/8/2019). - (Abdul Jalil/Madiunpos.com)
09 Agustus 2019 20:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Masyarakat Desa Sambirejo, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, bersyukur atas penutupan dan pembongkaran lokalisasi ilegal di permakaman warga etnis Tionghoa atau yang dikenal dengan Bongpay Sambirejo. Masyarakat menilai kegiatan prostitusi di lokasi itu telah memberikan dampak buruk bagi lingkungan.

Keberadaan lokalisasi ilegal di lokasi itu juga membuat warga sekitar takut keluar malam. Selain itu, terkadang warga yang lewat jalan tersebut ditawar oleh pria hidung belang.

Sukemi, 66, warga Desa Sambirejo yang rumahnya dekat dari permakaman itu mengaku risih atas kegiatan prostitusi di lokasi itu yang sudah ada sekitar 50 tahunan yang lalu.

"Kegiatan prostitusi di sekitar permakaman Bongpay ini sudah ada sejak lama. Saat saya masih kecil sudah ada. Tapi dulu itu sepi enggak seperti sekarang," jelas dia saat berbincang dengan Madiunpos.com di sela-sela pembongkaran lokalisasi Bongpay, Jumat (9/8/2019) siang.

Wanita lansia itu menuturkan keberadaan para PSK yang menawarkan layanan prostitusi di lokasi makam itu membuat kondisi sosial di desanya semakin buruk. Masyarakat juga ikut terdampak atas perlakuan kotor yang dilakukan para penyedia layanan esek-esek itu.

Dia menceritakan beberapa bulan lalu ada kejadian yang membuat geram warga. Para warga berkumpul dan akhirnya melabrak para PSK yang kala itu sedang mangkal.

Kejadian itu bermula saat salah satu anak gadis di desa itu pulang kerja dengan mengendarai sepeda motor lewat di jalan kawasan pemakaman. Jalan tersebut memang dijadikan para PSK untuk "berjualan".

Saat gadis desa itu lewat, tiba-tiba laju sepeda motornya dihentikan seorang pria. Pria yang tidak dikenalnya itu kemudian menawar harga gadis itu dan mengajaknya untuk berkencan.

Hingga akhirnya gadis itu pulang ke rumahnya sambil menangis dan melaporkan kejadian memalukan itu kepada orang tuanya. Mendengar cerita anak gadis itu, warga kemudian mendatangi lokasi itu dan melabrak PSK yang sedang mangkal mencari pelanggan.

"Itu sebenarnya kan jalan umum. Warga desa juga menggunakan jalan itu untuk keperluan aktivitas. Malah ada anak gadis yang baru pulang kerja ditawar dikira PSK. Kami enggak terima terus kita labrak," kata dia.

Selain itu, lokasi permakaman itu juga digunakan sebagai tempat bermain anak-anak desa. Maraknya kegiatan prostitusi di lokasi itu juga ditakutkan berdampak buruk bagi psikologis anak-anak.

"Apalagi di makam itu banyak sekali ditemukan kondom bekas ya. Itu kalau dilihat anak-anak kan juga bahaya. Jelas kondisi itu enggak baik untuk anak-anak," jelasnya.

Warga lainnya, Purnaning, 58, bersyukur akhirnya prostitusi di lokasi makam tersebut dihilangkan. Dia menuturkan kegiatan para PSK yang mangkal di lokasi itu seperti dibagi antara wanita dan waria. Selepas Magrib biasanya para wanita PSK yang mangkal dan mencari pelanggan. Kemudian setelah pukul 00.00 WIB, jatah para waria untuk mencari pelanggan.

"Mereka bukan warga sini. Orang luar semua itu. Mereka mangkalnya mulai malam sampai mau Subuh. Tidak hanya wanita, tapi juga waria yang ada di situ," ujarnya.