Kenaikan Harga Cabai Picu Inflasi di Kota Madiun

Ilustrasi pedagang cabai./(Solopos - Rudi Hartono)
06 Agustus 2019 22:04 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Kenaikan harga hampir semua jenis cabai menjadi penyumbang inflasi terbesar di Kota Madiun pada bulan Juli 2019. Selain cabai, penyumbang inflasi lainnya yaitu kenaikan harga daging ayam ras, upah tukang bukan mandor, dan harga kacang panjang. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, Umar Sjaifudin, mengatakan pihaknya mendata inflasi Kota Madiun pada Juli 2019 mencapai 0,17%. Dari angka itu, inflasi yang disebabkan kenaikan harga cabai mencapai 0,13%. 

Dia menuturkan kenaikan harga cabai yang terjadi di Kota Madiun maupun secara nasional itu salah satunya disebabkan karena faktor cuaca. Sehingga berpengaruh terhadap hasil dan meningkatkan harga jual. 

"Hasil pendataan petugas BPS, pada Juli lalu harga cabai rawit di Kota Madiun mengalami kenaikan hingga 64,22% dari harga normal. Kenaikan ini menjadi pemicu inflasi sebesar 0,13% dari komoditas cabai," jelas dia kepada wartawan, Senin (5/8/2019). 

Atas kondisi kenaikan harga cabai yang melambung tinggi di bulan Juli dan berdampak pada angka inflasi, Umar berharap Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Madiun bisa bekerja sama dengan BPS dan stakeholder lainnya untuk melaksanakan operasi pasar. Sehingga bisa menekan angka inflasi pada bulan Agustus 2019. 

Dia berharap harga cabai tidak menjadi penyebab inflasi di bulan Agustus 2019. "Selain cabai, komoditas yang menyumbang inflasi di bulan Juli yaitu daging ayam ras, tukang bukan mandor, terong panjang, keramik, kacang panjang, tarif pulsa ponsel, dan lainnya," kata dia. 

Angka inflasi sebesar 0,17% yang terjadi di Kota Madiun tergolong masih terkendali. Angka tersebut di atas inflasi Jawa Timur sebesar 0,16% dan di bawah angka inflasi nasional 0,31%. Pada bulan Juli, angka inflasi paling tinggi terjadi di Kediri dengan angka 0,44% dan paling rendah Kota Surabaya dengan angka 0,11%. Sementara itu ada dua daerah yang mengalami deflasi yaitu Kabupaten Sumenep dengan angka 0,08% dan Probolinggo dengan angka 0,05%.