Semua Desa di Ponorogo Harus Jadi DeDi dan DeWi

Objek wisata Telaga Ngebel, Ponorogo, saat libur Lebaran, tahun lalu. - Istimewa/Camat Ngebel
06 Agustus 2019 18:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, PONOROGO – Sekjen  Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Anwar Sanusi, berharap desa-desa di Ponorogo bisa menjadi desa digital (DeDi) dan desa wisata (DeWi). Terlebih di Ponorogo tidak ada area blankspot, semua wilayah bisa terakses internet. 

Hal itu disampaikan Anwar saat membuka acara Bursa Inovasi Desa klaster 1 di Dusun Sendang Bulus, Desa Pager, Kecamatan Bungkal, Minggu (4/8/2019). Klaster 1 ini meliputi lima kecamatan yakni Ngrayun, Slahung, Bungkal, Balong, dan Jambon.

Anwar menyampaikan di era industri 4.0 ini sudah saatnya desa-desa di Ponorogo menjadi DeDi dan DeWi. Perangkat desa juga harus berkoordinasi dengan karang taruna untuk membuat promosi yang menarik untuk menaikkan nilai pariwisata. 

“Karang taruna harus lebih digalakan agar terwujudnya DeDi dan DeWi, karena di Ponorogo tidak ada area blankspot, semua bisa menggunakan internet,” kata dia yang dikutip dari siaran pers Pemkab Ponorogo, Senin (5/8/2019). 

Menurutnya, desa wisata di Ponorogo harus melek digital. Pada era teknologi digital seperti sekarang, informasi bisa dengan mudah didapat melalui gawai. 

Para pengelola desa wisata juga bisa memanfaatkan YouTube serta media sosial untuk mempromosikan potensi desa. Sehingga masyarakat di luar Ponorogo bisa mengetahui perkembangan desa-desa wisata di Kota Reog. 

"Di Kemendes sendiri ada Kanal Desa dan kita juga ada akademi 4.0," ujarnya. 

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, mengatakan  bursa inovasi desa ini diadakan untuk bertukar inovasi antara desa satu dengan desa lainnya.

“Seperti Sendang Bulus ini. Sendang ini merupakan potensi Desa Pager yang luar biasa, karena satu-satu sendang yang memiliki hewan endemik yaitu bulus, dan nantinya menjadi salah satu obyek wisata andalan di Ponorogo,” ujarnya.