Bupati Ponorogo Datangkan Seniman dari Tujuh Negara Secara Gratis, Ini Rahasianya

Para penari asal Slovakia unjuk gigi di panggung Festival Topeng dan Folklore Internasional di Alun-alun Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (30/7/2019). - Madiunpos.com/Abdul Jalil
02 Agustus 2019 18:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, PONOROGO—Festival  Topeng dan Folklore Internasional yang diselenggarakan Pemkab Ponorogo diklaim sukses besar. Kegiatan bertaraf internasional itu direncanakan digelar lagi tahun depan. 

Penyelenggaraan festival selama empat hari, Sabtu-Selasa (27-30/7/2019), itu ternyata punya cerita di baliknya. Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, buka-bukaan perihal kegiatan yang berhasil mencuri perhatian ribuan pasang mata itu. 

"Ini merupakan penyelenggaraan festival topeng pertama. Menurut saya ini sudah berhasil. Karena sebagai event internasional yang baru pertama diselenggarakan ini sudah cukup meriah dan menarik perhatian masyarakat," kata dia saat penutupan Festival Topeng dan Folklore Internasional di Alun-alun Ponorogo, Selasa (30/7/2019) malam. 

Ipong menyampaikan kegiatan yang mendatangkan delegasi seniman dari tujuh negara itu hanya memerlukan biaya yang kecil. Bahkan bisa dikatakan kegiatan itu gratis karena hampir tidak ada bayaran yang diberikan kepada delegasi dari tujuh negara yang ikut ambil bagian.

Tujuh negara tersebut yakni Uzbekistan, Korea Selatan, Rusia, Meksiko, Ekuador, Slovakia, dan Timor Leste. Selain kesenian dari luar negeri, juga ditampilkan kesenian dari Indonesia terutama reog Ponorogo. 

Dalam kegiatan festival ini, delegasi dari tujuh negara yang berjumlah sekitar 180 orang itu tidak ada yang dibayar. Pemkab hanya menyediakan akomodasi seperti transportasi Surabaya-Ponorogo dan hotel selama di Ponorogo. Pemkab hanya memberikan uang saku setiap peserta sekitar 110 USD. 

"Event yang mendatangkan seniman dari tujuh negara itu, peserta ini engga ada yang dibayar. Kita hanya memberikan uang saku sekitar 110 USD per orang selama penyelenggaraan. Tapi untuk fee tidak ada," ujar Ipong. 

Padahal kegiatan internasional seperti itu biasanya menghabiskan hingga Rp3,5 miliar. Sementara Festival Topeng dan Folklore Internasional ini hanya menghabiskan anggaran Rp750 juta. 

Mengapa Pemkab Ponorogo tidak mengeluarkan biaya yang besar untuk mendatangkan seniman dari tujuh negara itu? Karena dalam kegiatan itu Pemkab Ponorogo hanya mendompleng kegiatan Pemkot Surabaya yang mendatangkan para seniman lintas negara itu. 

Para seniman itu sebelumnya telah tampil di Surabaya mulai tanggal 17 hingga 24 Juli 2019. Selanjutnya, mereka diminta untuk tampil di kegiatan festival di Ponorogo. 

Kedatangan mereka itu dikoordinasi Council International of Folklore Festival (CIOFF) yang merupakan lembaga di bawah naungan UNICEF. 

"Jadi mereka sudah dibayar Pemkot Surabaya. Jadi kita nunut. Ini saya buka rahasianya. Selain itu juga berkat koordinasi yang baik dengan CIOFF. Katanya kalau mau mendatangkan mereka sendiri biayanya mahal. Tapi kalau menyesuaikan dengan jadwal CIOFF ya enggak ada biaya," terang dia. 

Rencananya kegiatan seperti ini digelar lagi tahun depan. Pemkab juga telah berbincang dengan CIOFF terkait rencana itu. Ia berharap kegiatan ini pada tahun depan juga gratis. 

Ipong menegaskan festival topeng ini tidak akan dijadikan satu dengan kegiatan Grebeg Suro. Hal ini karena kegiatan di Grebeg Suro sudah terlalu padat dengan 35 kegiatan.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya