Garam Lokal Jatim Dinilai Tak Kalah dengan Garam Impor

Ilustrasi pekerja mengemas garam konsumsi. (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
26 Juli 2019 16:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Harga garam di wilayah Jawa Timur (Jatim) dinilai relatif bagus dibandingkan dengan daerah lain. Kalangan petani garam di Jatim diimbau menciptakan garam K1 atau kualitas terbaik agar mampu bersaing dengan garam impor.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Garsindo Anugerah Sejahtera, Yohannes Sugiarto, yang bergerak di sektor penyerapan garam. Dia menjelaskan perusahaannya mampu menyerap garam petani di Jatim dan membeli dengan harga yang sesuai.

"Harga relatif bagus di Jawa Timur dibandingkan daerah lain, ada yang Rp550 bahkan Rp800 [per kg]," kata Yohannes kepada wartawan di Surabaya, Kamis (25/7/2019).

Dia menambahkan PT Garsindo Anugerah Sejahtera mampu menyerap garam petani hingga 5.000 ton/bulan untuk kebutuhan tiga pabrik yang berada di Gresik dan Sumenep, dengan serapan garam petani hingga 20 truk atau setara 200 ton setiap hari.

"Dengan jumlah rata-rata tersebut, ada sekitar 5.000 ton per hari garam petani yang terserap. Penyerapan ini berdampak terhadap harga garam petani yang relatif tinggi dibandingkan daerah lain, misalnya Cirebon atau Jawa Tengah. Di daerah tersebut harga garam bisa Rp300, sedangkan di Madura sebesar Rp550 hingga Rp800," katanya.

Yohannes Sugiarto mengatakan pihaknya tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan impor garam, karena mesin olahan garam di perusahaannya sudah mampu menjadikan garam lokal setara dengan garam impor lantaran perusahaannya ikut secara langsung melakukan edukasi kepada petani.

Di Madura, kata dia, petani yang sudah mempraktikkan produksi garam dengan kualitas K1, kebanyakan daerah Sumenep. Bahkan ketika dilakukan uji laboratorium, garam petani Madura mengandung NaCl 98 dengan magnesium 0,048 setelah diolah dengan mesin pengolahan.

"Dengan kualitas ini dan dibantu dengan sistem pengolahan garam yang modern, maka garam produksi petani Sumenep bisa dipergunakan dan layak untuk kebutuhan industri," katanya.

Yohannes mengaku perusahaannya tidak antiimpor, namun kalau garam lokal bisa kenapa harus impor.

"Lha produk dalam negeri ini juga bagus, tinggal apakah kita mau maju bersama-sama atau tidak," katanya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya 

Sumber : Antara