Berkat Medsos, Pengusaha Fesyen Madiun Raup Omzet Rp60 Juta per Bulan

Mila Ponia, owner Leela Hijab, melihat karyawannya menjahit produk fesyen di rumah produksi di Kelurahan Josenan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Sabtu (1/6 - 2019). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
04 Juni 2019 08:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Bisnis di bidang fesyen tengah naik daun. Apalagi, kini didukung dengan teknologi informatika seperti media sosia yang semakin canggih dan internet yang semakin cepat.

Sebagai pengguna media sosial (medsos), tentu kita setiap hari melihat unggahan beragam foto pakaian. Apalagi, menjelang Lebaran, intensitas unggahan foto berupa aneka busana pun semakin padat.

Salah satu pengusaha fesyen di Madiun, Jawa Timur, Mila Ponia, 41, memanfaatkan sosial media untuk berpromosi . Dia menggunakan Instagram dan Facebook sebagai sarana promosi produk-produk terbarunya.

Hasilnya pun tak terduga, dalam waktu beberapa tahun usaha fesyennya bisa survive. Omzetnya pun secara bertahap merangkak naik hingga kini bisa mencapai Rp60 juta setiap bulan.

Tidak ada yang instan dalam berbisnis. Mila mengisahkan perjalanan panjangnya membangun bisnis konveksi dengan brand Leela Hijab.

Sebelum memberanikan diri terjun di dunia fesyen, ibu satu anak ini merupakan seorang reseller produk fesyen dari brand-brand ternama. Saat itu, ia belum mengenal sistem online, sehingga full ia masuk ke pasar secara offline. Toko-toko pakaian besar di Madiun nyaris telah dimasuki semuanya.

"Kalau kita nyetok ke toko-toko itu kan sistemnya bayar belakangan. Jadi kita sebagai reseller diberi uangnya ya pas akhir bulan. Sistem pembayaran seperti itu membuat kita terkadang kesulitan," ujarnya, Sabtu (1/6/2019).

Karena berbagai persoalan, Mila kemudian mencoba peruntungan dengan menciptakan brand sendiri. Untuk memulai usahanya itu, ia hanya berbekal niat dan tekad bulat. Untuk mendesain produk-produknya, Mila melihat dan meniru produk-produk fesyen yang sedang digemari masyarakat.

Untuk penjahit dan tenaga potong, Mila merekrut karyawan yang baru lulus dari SMK. Modal awal yang dikeluarkannya untuk membeli bahan dan alat jahit sekitar Rp10 juta.

"Saya memang tertarik untuk baju muslim dan muslimah. Khususnya yang dewasa. Tapi dengan seiringnya waktu berjalan, kini saya fokus untuk mengambil pasar pakaian muslim dan muslimah anak-anak. Sedangkan yang dewasa masih, tapi hanya sebatas kalau ada pesanan," jelasnya.

Untuk pemasaran produk, Mila mengaku meng-handle sendiri melalui sosial media. Ia mengaku tidak percaya produknya segera diterima masyarakat. Pesanan mulai berdatangan saat foto produk terbaru diunggah di sosmed baik Facebook maupun Instagram.

Reseller pun mulai berdatangan untuk menjualkan produk-produknya. Saat ini sudah ada puluhan reseller dari berbagai daerah bergabung dengannya.

"Untuk pengirimannya pun sudah ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan sampai ke luar negeri seperti di Singapura dan Dubai," ujarnya.

Dia mengaku promosi melalui media sosial sangat ampuh dan cepat diterima pasar. Apalagi saat ada produk terbaru yang baru diluncurkan, secara cepat para reseller akan mempromosikannya dan segera mengorder.

Untuk memperkuat brandnya, ia pun menyewa selebgram-selebgram untuk mempromosikan produk fesyennya. Cara tersebut diakui ampuh untuk menarik minat karena konsumen melalui foto bisa melihat model dan desainnya.

Saat ini jumlah karyawan yang dipekerjakannya ada tujuh orang terdiri dari bagian desain produk, penjahit, marketing, tukang potong, dan tukang setrika.

Dalam dunia usaha, terlebih di bidang fesyen, inovasi menjadi sangat penting. Model fesyen cepat berubah, untuk itu dirinya dituntut untuk terus kreatif. Ia mencontohkan produk seperti baju kokok sporty, ciput dengan telinga, gamis sporty, dan lainnya. Selain model yang terus berinovasi, harga jual yang bersaing pun menjadi cara untuk menarik minat para konsumen.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya