Mbah Harjo, Manusia Tertua Asal Blitar Meninggal di Bulan Suci

Manusia tertua asal Blitar, Harjo Suwito atau Harjo Gentelot. (Detikcom)
22 Mei 2019 18:47 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, BLITAR -- Harjo Suwito atau Harjo Gentelot, manusia tertua asal Blitar, Jawa Timur, meninggal dunia. Sosok Mbah Harjo pernah viral di medsos karena dia dikabarkan telah berusia 200 tahun pada 2018 silam.

Informasi meninggalnya warga Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, juga viral di media sosial. Mbah Harjo dikabarkan tutup usia, Selasa (21/5/2019) sore, tepat di malam 17 Ramadan atau Nuzulul Quran.

Mbah Harjo yang tinggal dengan seorang anaknya, dikabarkan mengalami sakit degeneratif, mengingat usianya yang sudah sepuh. Namun pria dengan enam istri ini menolak dibawa ke layanan medis untuk berobat.

"Sebelumnya sempat diajak oleh Kapolsek Gandusari untuk berobat namun beliau tidak mau. Akhirnya mengembuskan napas terakhir kemarin sore. Dan dimakamkan siang tadi di TPU desa terdekat," kata Kasubag Humas Polres Blitar Iptu M. Burhanudin saat dimintai konfirmasi Detikcom, Rabu (22/5/2019).

Hingga Mbah Harjo meninggal, tidak ada yang bisa memastikan usia sebenarnya pria tersebut.

Berdasarkan catatan kependudukan di Kantor Desa Gadungan, Mbah Harjo lahir 1 Juli 1925. Namun kepala desa yakin, sesepuh desa itu lebih tua dari tahun kelahiran yang tercantum di datanya.

"Saya tidak yakin data itu benar. Saya justru yakin, Mbah Harjo lahir sebelum tahun 1900. Bisa jadi antara tahun 1880 atau 1890. Karena saat Kelud meletus tahun 1901, beliau sangat gamblang menceritakan situasi desa ini saat itu. Beliau sudah remaja," jelas Kepala Desa Gadungan, Widodo, saat diwawancarai Detikcom satu tahun silam.

Saat ditanya kapan lahirnya, pria yang mempunyai enam istri itu mengaku tidak ingat tahun kelahirannya. Tetapi, Mbah Harjo mengetahui Gunung Kelud meletus sebanyak enam kali. Gunung Kelud diketahui meletus pada tahun 1901, 1918, lalu 1951. Selanjutnya meletus kembali pada tahun 1965, 1990, dan terakhir tahun 2014.

Dengan bahasa Jawa halus, kakek yang dinilai "orang pintar" saat itu mengaku tidak mengetahui pasti kapan tahun kelahirannya. Dia hanya ingat cerita ibunya, kalau hari kelahirannya tepat Selasa Kliwon penanggalan Jawa.

Mbah Harjo diakui sebagai sesepuh dan panutan di desanya. Selagi masih muda, Harjo dikenal punya keahlian menemukan beberapa candi dan situs bersejarah lain di sisi utara wilayah Kabupaten Blitar.

Kini Mbah Harjo telah kembali kepada Sang Pencipta. Mbah Harjo wafat di Bulan Suci yang penuh berkah. Jenazah Mbah Harjo disalatkan sebelum diantar ke liang lahat. 

Sumber : Detikcom