Truk Galian C Dituding Sebabkan Kerusakan Jalan di Ponorogo

Ilustrasi pertambangan galian C. (Solopos/Dok)
22 April 2019 08:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, PONOROGO -- Sebanyak 400 unit truk bermuatan hasil tambang galian C setiap hari melintas di jalan-jalan Ponorogo.

Truk bermuatan hasil tambang itu dituding menjadi salah satu penyebab jalan di Ponorogo kerap mengalami kerusakan.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Ponorogo, Djunaedi, mengatakan kerusakan jalan di puluhan titik di sejumlah kecamatan di Ponorogo salah satu faktornya yakni banyaknya truk kelebihan muatan yang melintas di jalanan Ponorogo.

Untuk diketahui, Ponorogo memiliki banyak titik tambang di tiga kecamatan seperti Kecamatan Jenangan, Kecamatan Pulung, dan Kecamatan Sampung.

Dia menuturkan di setiap kecamatan itu truk pengangkut hasil tambang mencapai 100-150 unit setiap hari. Sehingga jumlah truk pengangkut hasil tambang melintas mencapai 300 sampai 400 unit per hari.

Sebagai pencegahan, kata Djunaedi, sejak beberapa tahun terakhir pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menekan lalu lintas truk-truk dengan tonase besar di jalanan sekitar tambang galian C di Ponorogo.

Namun, upaya ini dianggap tidak efektif karena nyatanya truk-truk bermuatan besar tetap melintas hingga membuat jalan rusak.

"Persoalan pertama adalah kita punya banyak titik tambang. Paling tidak ada di tiga kecamatan yaitu Jenangan, Pulung, dan Sampung," ujar dia dalam siaran pers Pemkab Ponorogo yang dikutip Madiunpos.com, Minggu (21/4/2019).

Pihaknya terus melakukan upaya represif seperti melakukan tilang. Tapi langkah itu kurang efektif karena saat ini ada alat komunikasi seperti ponsel.

"Ketika satu dua truk diperiksa, truk lainnya akan berhenti beroperasi pada saat itu juga karena dihubungi pengemudi yang kena tilang," ungkap Dhunaedi.

Pihaknya juga membuat kesepakatan atau nota kesepahaman antara camat, pemilik tambang, kepolisian, kepala desa, dan pengemudi truk. Kesepakatannya untuk saling mengendalikan.

Namun upaya itu hanya berlaku satu hingga dua bulan saja. Setelah itu truk kembali lewat beban melebihi tonase lagi.

Lebih lanjut, upaya lain yang dilakukan yakni penurunan paksa muatan berlebih. Langkah ini bekerja sama dengan lembaga kemasyarakatan di sekitar jalan yang dilintasi. Tetapi upaya itu juga hanya efektif sebentar dan truk kembali membawa muatan melebihi tonase.

"Operasi yang dilakukan kurang efektif juga karena minimnya jumlah personel dan rendahnya anggaran yang dialokasikan untuk operasi itu. Dengan jumlah personel hanya sekitar 10 sampai 15 orang, tentu akan kewalahan untuk menangani 300 sampai 400 truk per hari," terang dia.

Lebih lanjut, Djunaedi berharap para pengguna jalan bisa memperhatikan muatanya saat melintas. Jangan melintas di jalan dengan muatan lebih dari kekuatan tonase jalan.