Kriminolog Ungkap Pembunuh Mayat dalam Koper akan Kembali ke TKP

Mayat dalam koper ditemukan di pinggir sungai wilayah Blitar. (Detikcom/Istimewa)
11 April 2019 20:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Pelaku pembunuhan mutilasi terhadap Budi Hartanto, 28, warga Kediri yang mayatnya ditemukan dalam koper di tepi sungai bawah jembatan Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim), belum juga tertangkap.

Kriminolog dari Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Kristoforus Laga Kleden, menanggapi kasus itu  mengatakan dalam teorinya, ada kemungkinan pelaku akan kembali ke tempat kejadian perkara (TKP) tersebut.

"Tapi pada dasarnya seseorang yang biasanya melakukan kejahatan, pada saat bersamaan atau selang beberapa saat kemudian dia akan kembali TKP [mayat dalam koper] di mana terjadinya kejadian tersebut," papar Kristoforus kepada Detikcom di Surabaya, Kamis (11/4/2019).

Kristoforus menyebut lokasi kejadian bisa saja di rumah korban atau TKP pembunuhan. Dia menambahkan secara teori, pelaku pasti ada di sekitarnya.

"Yang mana sesungguhnya kalau polisi belum menemukan siapa pelakunya, secara teori ternyata bahwa si pelaku itu ada di sekitar lokasi kejadian. Katakan saja lokasi kejadian ini korban ini berasal dari mana, rumahnya di mana, paling tidak bahwa si pelaku ada di sekitar situ," jelasnya.

"Pelaku berkutat di sekitar situ. Tidak mungkin pelaku berada di lokasi di mana dia membuang kotak atau koper yang berisi mutilasi tadi. Tapi di mana tempat tinggal korban, pelaku itu biasanya berkutat di sekitar situ," imbuh Kristoforus.

Saat ditanya apa alasan pelaku kembali ke TKP, Kristoforus memaparkan pelaku biasanya akan penasaran dengan respons keluarga dan masyarakat sekitar saat kehilangan korban maupun harta bendanya.

"Karena dia akan kembali melihat di sekitar situ dengan pertanyaannya begini apa reaksi masyarakat setempat kalau misalnya korban itu kehilangan beberapa benda, merasa menyesal tidak dengan kehilangan beberapa motor misalnya. Atau mereka merintih, menangis, menjerit dia ingin melihat seperti itu. Dalam kasus ini kan dia membunuh ya. Dia ingin melihat reaksi orang sekitar seperti apa," ungkapnya.

Kristoforus menambahkan pembunuhan tersebut kemungkinan besar dilatarbelakangi hal-hal yang bersifat private. Menurutnya, sebelum pelaku ditangkap maka akan sulit menyimpulkan motif yang melatarbelakangi mutilasi itu.

Tak hanya itu, Kristoforus menambahkan pembunuhan yang diikuti dengan mutilasi juga bisa terjadi karena adanya dendam atau kemarahan yang teramat besar pada korban. "Ada dendam sifatnya begitu besar bisa saja atau motif itu adalah ungkapan kemarahan terhadap korban," imbuh Kristoforus.

Selain itu, Kristoforus mengatakan pembunuhan dengan mutilasi bisa juga diartikan sebagai ancaman atau peringatan. Dia melihat, ada kemungkinan pelaku ingin menekankan jika dirinya bisa melakukan apa saja termasuk hal yang paling sadis.

"Melakukan dengan cara dimutilasi kemudian dimasukkan dalam koper ini sebuah peringatan, boleh dibilang begitu ini adalah peringatan bahwa saya bisa melakukan apa saja termasuk saya melakukan mutilasi ini," jelasnya.

Dari sisi lain Kristoforus berpendapat, dalam kejahatan bisa saja korban pembunuhan bukan lah sasaran utama. Menurutnya, kadangkala ada pelaku yang mendendam kepada orang lain, namun justru membunuh korban sebagai peringatan kepada orang tersebut.

"Ini yang bisa saya katakan bahwa boleh saja suatu bentuk kemarin dari si pelaku ungkapan kemarahan, ungkapan emosi dari pelaku terhadap korban atau terhadap situasi di sekitar korban tapi korban ini menjadi sasaran," ungkapnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Detikcom