Buka Giling PG Rejo Agung Madiun Sepi, Omzet Pedagang Terjun Bebas

Pedagang panci menggelar dagangan di pasar rakyat PG Rejo Agung Jl. Yos Sudarso, Kelurahan Patihan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Sabtu (6/4 - 2019) siang. (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
06 April 2019 22:00 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Sejumlah pedagang di pasar rakyat agenda Buka Giling Pabrik Gula Rejo Agung Baru tahun 2019 mengeluh sepi pembeli. Mereka pun khawatir target penjualan tidak terpenuhi dalam agenda tahunan ini.

Pantauan Madiunpos.com di lokasi pasar rakyat atau di depan PG Rejo Agung, Jl. Yos Sudarso, Kelurahan Patihan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Sabtu (6/4/2019) siang, pasar rakyat masih sepi pengunjung.

Sebagian besar pedagang musiman yang berjualan di pasar rakyat itu masih tutup. Namun, beberapa pedagang sudah membuka lapaknya.

Berbagai kebutuhan dijual di pasar rakyat yang hanya ada saat kegiatan Buka Giling PG Rejo Agung itu. Seperti panci dan peralatan masak, makanan, boneka, pakaian, jajanan anak-anak, gerabah, hingga bunga plastik tersedia di pasar itu.

Seorang pedagang panci di pasar rakyat itu, Nur Khanif, menyampaikan sudah tiga pekan berjualan di pasar rakyat tersebut. Tahun ini merupakan tahun kesepuluh dirinya ikut meramaikan kegiatan Buka Giling PG Rejo Agung dengan berjualan berbagai panci dan peralatan masak.

Dia mengaku rutin berjualan di kegiatan ini karena penghasilan yang didapatkan dari berjualan panci cukup besar. Buka Giling di PG Rejo Agung ini menjadi salah satu kegiatan yang diincarnya setiap tahun.

"Saya rutin di PG Rejo Agung ini. Sudah sepuluh tahun saya ikut berjualan di kegiatan ini. Saya juga selalu berjualan aneka panci ini," kata dia saat berbincang dengan Madiunpos.com.

Warga Pasuruan, Jawa Timur, itu mengaku memberanikan diri untuk berjualan jauh-jauh ke Madiun karena pengalaman tahun-tahun sebelumnya yang membuatnya untuk kembali lagi. Omzet yang didapat dari berjualan panci ini mencapai Rp25 juta dari awal berjualan sampai kegiatan Buka Giling rampung atau selama kurang dari sebulan.

Namun untuk tahun ini, kemungkinan target omzet yang dipatok yakni Rp25 juta sulit untuk direalisasikan. Hal ini karena daya beli masyarakat dianggap menurun dibandingkan kegiatan serupa pada tahun-tahun sebelumnya.

Dia mencontohkan biasanya setiap hari dirinya mampu mendapatkan omzet antara Rp1 juta sampai Rp3 juta. Namun, tahun ini pendapatannya menurun tajam yakni hanya Rp600.000/hari.

"Kalau untuk pengunjung sih ramai. Saat sore itu penuh pengunjung. Tapi daya belinya yang menurun. Ya mungkin karena sekarang belum panen jadi pada gak beli," terangnya.

Khanif menyampaikan belum lagi kendala saat hujan turun, biasanya pasar langsung sepi. Pedagangterpaksa menutup lapaknya karena takut kehujanan.

Pedagang bunga plastik di pasar rakyar Buka Giling PG Rejo Agung, Udin, 22, menyampaikan keluhan yang sama. Pada agenda tahunan ini dirasakan daya beli masyarakat menurun.

Menurutnya, pada kegiatan pasar rakyat tahun ini jumlah pembeli menurun drastis dibandingkan kegiatan serupa pada tahun lalu. Ia mencontohkan biasanya sepekan sebelum puncak acara Buka Giling bisa mendapatkan Rp15 juta.

Tetapi, saat ini pendapatannya pun menurun belum sampai Rp15 juta. Dia mengklaim pada tahun sebelumnya omzetnya bisa mencapai Rp35 juta selama pasar terjadi.

"Saya itu sudah empat tahun di sini. Baru tahun ini pembelinya agak kurang. Biasanya saya sepekan di sini sudah mulai mengirim barang lagi. Tapi tahun ini stok barang yang dibawa masih banyak, jadi saya gak kirim barang lagi," terangnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya