Dampak Ekonomi Trans Jawa Terasa 8-10 Tahun ke Depan

Kiri ke kanan, Moderator, Guru Besar FE UI Rhenald Khasali, Founder Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Hendri Saparini, dan Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Surabaya Suyanto dalam East Java Economic Forum di Surabaya, Senin (25/3 - 2019). (Bisnis/Peni Widarti)
26 Maret 2019 04:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Pengoperasian Tol Trans Jawa diyakini memberikan dampak perubahan ekonomi daerah yang secara riil bakal terlihat dalam waktu delapan hingga sepuluh tahun ke depan.

Pengamat ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Surabaya, Suyanto, mengatakan pembangunan infrastruktur merupakan investasi jangka panjang sehingga dampak perubahan ekonominya pun akan terjadi secara bertahap untuk waktu lama.

"Seperti jalur Trans Jawa ini, kalau dilihat jangka menengah mungkin 8 -10 tahun ke depan bisa kita lihat perubahan riilnya, sedangkan jangka pendek yang kelihatan hanya biaya transportasi lebih murah, dan efisiensi," katanya sesuai menjadi pembicara dalam East Java Economic Forum di Surabaya, Senin (25/3/2019).

Dia menambahkan pembangunan infrastruktur akan mendorong masyarakat untuk punya akses. Apalagi, masyarakat terutama anak muda milenial cenderung ingin punya usaha sendiri seperti startup dan inkubator.

Mereka akan lebih membutuhkan akses transportasi dengan perhitungan biaya tidak terlalu mahal.

Dia melanjutkan dampak yang bakal terlihat dari keberadaan infastruktur tersebut adalah munculnya sentra-sentra industri baru, mulai dari sentra industri mikro, kecil, menengah dan besar. Bahkan di wilayah timur seperti Banyuwangi saat ini sudah terjadi perubahan ekonomi karena dukungan infrastruktur bandara dan pelabuhan.

"Saya rasa pertumbuhan ekonomi kita tidak hanya membutuhkan peran pemerintah, tapi juga swasta dan akademisi bersama-sama ikut membangun perekonomian Jatim dan Indonesia secara keseluruhan," imbuhnya.

Suyanto menjelaskan keberadaan Trans Jawa sendiri ke depan akan menemukan titik keseimbangan, yang berarti jalur tengah yang dulu masih akan tetap dilewati oleh masyarakat dan kalangan industri sesuai dengan kebutuhannya.

"Infrastruktur yang dibangun pemerintah adalah jalur alternatif, tentu saja tidak akan meniadakan yang sudah ada. Masyarakat bisa memilih mau lewat yang mana, bergantung tujuanya, jarak tempuh yang lebih dekat dan murah yang mana," ujarnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jatim, Difi Ahmad Johansyah, mengatakan keberadaan Trans Jawa terutama di wilayah Jatim hingga saat ini belum terlihat dampaknya secara signifikan karena masih terlalu baru.

"Kami belum punya data untuk melihat dampak Trans Jawa ini. Mungkin tahun depan baru bisa terlihat data pertumbuhan daerah sekitarnya," katanya.

Corporate Communications Departement Head PT Jasa Marga (Persero), Irra Susiyanti, menyebutkan sebelum jalur Trans Jawa tersambung atau pada November 2018, jumlah volume lalu lintas jalan tol yang dikelolanya mencapai sekitar 621.557 per hari.

"Setelah Trans Jawa tersambung pada 6-12 Januari 2019, total volume lalu lintasnya naik menjadi rata-rata 660.567 per hari," katanya.

Namun, lanjutnya, setelah diberlakuan tarif Trans Jawa 22-28 Januari 2019, total volume lalu lintas menurun menjadi rata-rata 632.134 per hari.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Bisnis.com