Napi LP Tulungagung Dapat Pelatihan Wirausaha Bila Penuhi Syarat Ini

Matras untuk alas kawin suntik ternak sapi (Antara/Destyan Handri Sujarwoko)
23 Maret 2019 12:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, TULUNGAGUNG -- Lembaga Pemasyarakatan (LP/lapas) Klas IIB Tulungagung, Jawa Timur, memberikan pelatihan wirausaha bagi sedikitnya 40 narapidana atau warga binaan yang mendekam di LP tersebut.

"Program kemandirian ini sudah lama diadopsi dan dikembangkan di lingkungan LP Tulungagung. Hanya fokus produknya menyesuaikan dengan minat-bakat, serta permintaan pasar," kata Kasubsi Kegiatan Kerja LP Klas IIB Tulungagung, Eko Supriyanto, di Tulungagung, Kamis (21/3/2019).

Dia mencontohkan produk usaha yang mengikuti minat-bakat warga binaan adalah pembuatan kerajinan perahu dan miniatur masjid/rumah menggunakan bahan baku limbah kayu, serta hiasan buah-buahan menggunakan bahan baku kertas.

Kendati pasarnya masih terbatas,ungkap dia, warga binaan yang memiliki minat untuk lebih kreatif berusaha diberi kesempatan membuat kerajinan tersebut lalu hasilnya dipajang di ruang kunjungan (ruang bezuk keluarga warga binaan).

Sementara untuk produk-produk usaha yang mengikuti permintaan pasar atau berdasar pesanan dan sudah lama digeluti adalah kerajinan kasur atau matras untuk alas kawin suntik sapi, kuda, atau kambing.

Matras untuk alas kegiatan kawin suntik ternak itu memiliki ukuran besar, sedang dan kecil. Harganya bervariasi menyesuaikan ukuran tersebut, yakni mulai Rp40.000 per lembar (untuk kambing), Rp375.000 untuk matras kawin suntik ternak sapi/kuda, dan yang terbesar dihargai sampai Rp1 juta.

"Karena produk ini sudah lama dan pasarnya ada, warga binaan yang terlibat paling banyak. Ada sekitar 30-an, terutama untuk pembuatan keset," paparnya.

Mereka biasanya diberi jam kerja mulai pukul 08.00 WIB hingga 14.30 WIB. Normalnya mereka diberi waktu bekerja di ruang produksi pukul 08.00 WIB hingga 11.30 WIB.

Setelah tengah hari, pekerjaan akan dihitung lembur hingga pukul 14.30 WIB. "Lembur biasanya diberlakukan saat pesanan sudah mendekati batas waktu," ujarnya.

Tidak sembarang napi bisa mengikuti program kemandirian. Menurut keterangan Eko, seleksi dilakukan untuk menyaring para warga binaan yang benar-benar memiliki kemauan usaha dan memiliki perilaku baik.

Ada empat bidang usaha yang kini dikembangkan dalam program kemandirian itu. Selain pembuatan keset-matras berbahan sabut kelapa serta kerajinan miniatur perahu-masjid dan aneka hiasan buah berbahan kertas, ada juga kegiatan pengelasan, memasak jajanan/makanan untuk napi perempuan.

Eko mengatakan pemberdayaan napi-napi melalui program kemandirian itu berlangsung terus hingga warga binaan bersangkutan sudah menjelang bebas.

"Artinya napi diijinkan mengikuti program kemandirian sampai dia sudah mau bebas. Karena tujuan dari pelatihan ini adalah untuk mempersiapkan mereka agar memiliki keahlian dan kemauan untuk berwirausaha, hidup mandiri dan tidak terlibat tindak pidana lagi," katanya. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara