Pemerintah akan Beri Insentif bagi Investor Bahan Baku Sepatu

Sepatu karya mahasiswa Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya. (Bisnis - Peni Widarti)
20 Maret 2019 00:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Ketergantungan pengusaha alas kaki dan sepatu di Indonesia terhadap impor bahan baku masih cukup besar mencapai 60%. Guna mengurangi angka itu, pemerintah dinilai perlu memberikan insentif bagi investor yang mau menanamkan modalnya untuk membangun sentra produksi bahan baku alas kaki dan sepatu di Tanah Air.

Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Gati Wibawaningsih, mengatakan saat ini memang masih belum ada pemberian insentif bagi investasi di sektor persepatuan.

Namun, untuk mendorong industri alas kaki ke depan, pemerintah perlu memberikan insentif misalnya berupa pengurangan/pembebasan pajak.

"Jadi kalau ada industri yang mau bikin industri bahan baku di dalam negeri ya harus dikasih insentif dari pemerintah, mengingat industri alas kaki ini potensinya besar sekali," katanya seusai membuka acara sosialisasi kompetisi Indonesia Footwear Creative Competition (IFCC) 2019 di Universitas Kristen Petra Surabaya, Selasa (19/3/2019).

Dia mengatakan saat ini daerah yang sangat potensial untuk pengembangan industri bahan baku alas kaki yakni Magetan dan Tanggulangin Jawa Timur, Cibaduyut Bandung, Padang, dan Makassar. 

"Sejauh ini Ditjen IKMA sudah membantu memberikan mesin potong untuk kulit di Magetan. Mesin dari Itali ini punya kemampuan untuk memotong dengan minim limbah," katanya.

Gati mengatakan jika pabrik bahan baku alas kaki seperti kulit, plastik, sol, dan kain ini dibangun di Indonesia, diyakini akan mengurangi porsi impor bahan baku, setidaknya bisa turun 10%, sehingga menjadi 50% dari total kebutuhan bahan baku.

"Kalau misalnya Magetan dibangun akan sangat membantu pertumbuhan industri ini," katanya.

Data Kemenperin menyebutkan Indonesia saat ini sudah menjadi eksportir alas kaki terbesar ke-6 di dunia, dan menduduki urutan ke-4 sebagai produsen alas kaki di dunia setelah China, India dan Vietnam, serta menjadi negara konsumen sepatu terbesar ke-4 dengan konsumsi 886 juta pasang alas kaki pada 2017.

Tahun lalu, Indonesia mencatatkan jumlah produksi mencapai 1,41 miliar pasang sepatu atau berkontribusi 4,6% dari total produksi sepatu dunia. Pada 2018, Indonesia juga telah mencatatkan nilai ekspor sebesar US$5,1 miliar atau naik 4% dibandingkan ekspor 2017. 

Adapun saat ini jumlah industri alas kaki di Indonesia tercatat ada 18.657 unit usaha, yang 18.091 unit usaha merupakan skala kecil, sebanyak 441 unit usaha skala menengah dan 155 unit usaha skala besar. Dari belasan ribu unit usaha tersebut telah menyerap 795.000 tenaga kerja dan telah berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar 0,2% pada 2018.

Ranah Digital

Gati menambahkan untuk meningkatkan produksi baik secara kualitas maupun kuantitas, Ditjen IKMA tahun ini menyiapkan anggaran Rp15 miliar atau sekitar 5% dari total anggaran Ditjen IKMA untuk mendukung pengembangan industri sepatu melalui Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI). 

"Melalui BPIPI ini kita punya unit produksi, jadi kalangan siswa/mahasiswa kalau mau belajar membuat sepatu ya kita kerja sama. Peserta pelatihan apakah itu dari industri, startup akan diseleksi karena maksimal 40 orang kelasnya," jelasnya.

Gati menambahkan khusus akses pasar, mau tidak mau industri dan pemerintah harus masuk ranah digital. Saat ini Ditjen IKMA sudah bekerja sama dengan sejumlah marketplace seperti Tokopedia, Blibli Belanja, dan Bukalapak untuk membina IKM dalam hal promosi produk.

"Kami juga punya pendekatan secara offline melalui pameran-pameran yang potensi penjualan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena pemerintah tidak cukup duit, jadi pendekatannya adalah digital," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama Rektor Universitas Kristen Petra Surabaya, Djwantoro Hardjito mengatakan industri padat karya seperti alas kaki tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin.

Untuk itu pemerintah maupun industri besar perlu mendorong kreativitas perajin terutama generasi milenial yang dianggap punya potensi besar.

"Potensinya mahasiswa atau anak muda sekarang ini kreativitasnya luar biasa. Mereka sudah bisa mendesain sneaker-sneaker yang luar biasa pula tidak kalah dengan desainer luar, dan hanya tinggal polesan," katanya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Bisnis.com