Tetangga Bingung 52 Warga Watubonang Ponorogo Pindah Diam-Diam

Rumah Marimun di Desa Watubonang, Badegan, Ponorogo, yang dijual dan uang hasil penjualan digunakan untuk hijrah ke Malang, Rabu (13/3 - 2019). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
15 Maret 2019 04:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, PONOROGO -- Aksi pindah massal yang dilakukan 52 warga Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo ,Jawa Timur,  membuat para warga lain di desa setempat keheranan.

Sebab, para tetangga yang rumahnya berada di samping kanan kiri warga yang pindah tidak dipamiti selayaknya kebiasaan hidup di desa.

Kepergian 16 keluarga dengan jumlah jiwa sebanyak 52 orang ke Malang membuat warga Desa Watubonang kebingungan. Kebingungan ditunjukan saat semisal ditanya wartawan terkait waktu kepergian para tetangga mereka.

Hal itu ditunjukkan pasangan Soimin, 60, dan Darti, 49, yang rumahnya bersebelahan persis dengan rumah Marimun, salah satu warga yang pindah ke Malang bersama anak dan istrinya. Rumah mereka saling berdekatan yaitu di RT 004/RW 001, Dusun Krajan, Kecamatan Badegan.

Soimin menyampaikan dirinya baru mengetahui beberapa hari setelah Marimun sekeluarga pergi dan tidak pernah terlihat di sawah dan di rumah. Lantas ia mendapatkan informasi bahwa tetangganya itu pergi ke Malang untuk menempa ilmu agama.

Soimin maupun Darti pun tidak mengetahui tanah dan rumah Marimun telah dijual dengan harga Rp20 juta dan uangnya untuk biaya hidup di Malang.

"Rumahnya tidak dijual. Tapi ditunggui saudaranya," ujar Soimin, Rabu (13/3/2019).

Padahal hasil penelusuran Madiunpos.com di rumah Marimun, pihak keluarga besar Marimun membenarkan rumah tersebut telah dijual dan hasilnya untuk pergi ke Malang bersama satu keluarga.

Soimin mengaku tidak pernah dipamiti Marimun. "Yang saya tahu, Marimun itu memang ikut ngaji di Pak Kotimun. Setiap Rabu dan Jumat. Kalau saya ga ikut pengajian itu," ujar dia.

Hal senada juga dikatakan warga Dusun Krajan lainnya, Sukro, 32. Rumah pria ini berjarak sekitar 100 meter dari rumah Kotimun, orang yang disebut-sebut sebagai pimpinan thoriqoh Musa Ponorogo.

Sukro menuturkan dirinya hanya mendengar dari perangkat desa bahwa ada 52 tetangganya hijrah ke Malang. Dia merasa selama ini tidak pernah ada warga yang berpamitan untuk pergi ke Malang.

"Saya ga tahu alasan mereka pergi ke Malang. Mereka yang pergi adalah yang ikut pengajian di pondok itu. Katanya mau ke pondok pusatnya di Malang," jelas dia. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya