52 Warga Ponorogo Pindah ke Ponpes Malang Bukan karena Doktrin Kiamat

Polisi beserta ulama di Malang meluruskan isu "Kiamat Sudah Dekat". (Okezone)
14 Maret 2019 17:20 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, MALANG -- Sebanyak 52 warga Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, diketahui pindah ke Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahu Falahil Mubtadiin di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. 

Kabar kepindahan puluhan warga Ponorogo ke Malang itu dibenarkan oleh kepolisian bersama jajaran tokoh ulama Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Namun kepindahan itu bukan terkait adanya ajaran atau doktrin mengenai kiamat sudah dekat seperti viral di media sosial.

Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto mengakui telah ada pertemuan dari jajaran kecamatan, kepolisian, tokoh ulama, dan pengasuh ponpes yang disebut mengajarkan doktrin tentang kiamat dan aliran Nabi Musa As.

"Dari hasil tabayyun (kroscek), sudah dilakukan pada hari Selasa dari mulai pukul 15.00 WIB-17.30 WIB dengan hasil informasi yang didapati itu tidak benar. Bagaimana kita meng-counter isu itu dengan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan tabayyun," bebernya.

Budi Hermanto mengungkapkan aktivitas mondok itu merupakan hal yang biasa dijumpai tiga bulan menjelang Ramadan dan sudah berjalan tiga tahun.

Dari hasil penelusuran kepolisian, jajaran tokoh ulama setempat, dan laporan pengurus Ponpes memang ada beberapa warga tak hanya dari Ponorogo tapi juga daerah lainnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

"Total ada 573 santri dari jumlah itu ada 177 KK (Kepala Keluarga) yang nyantri di sana. Dari KK itu yang tinggal di Ponpes ada 132 KK, sedang yang tinggal di luar ada 45 KK. Ini data dari pengurus Ponpes," beber Budi Hermanto.

Sementara ada 396 santri yang tidak berkeluarga sedang mondok di Ponpes yang terletak di Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, 277 santri tinggal di dalam Ponpes, sementara 119 santri tinggal di luar Ponpes.

"Santri ini berasal dari Kasembon 51 orang, Kediri 106 orang, Lampung 50 orang, Ponorogo 42 orang, Jember 63 orang, Boyolali 45 orang, Sukoharjo, Karanganyar Jawa Tengah, Tuban, Blitar, Ngawi, Tulungagung, Surabaya, Jombang, Mojokerto, Nganjuk, Magelang dan Ngasem (Kediri), " lanjutnya.

Di sisi lain pengasuh Ponpes Miftahu Fallahil Mubtadiin, K.H. Muhammad Romli menerangkan di Ponpesnya ada program triwulan menjelang Ramadan untuk mondok.

"Jadi program triwulan pengajian ini sudah berlangsung selama tiga tahun. Memang ada hadis yang menerangkan salah satu tanda kiamat kedatangan meteor di bulan Ramadan. Jadi kita istilahnya mendekatkan diri, setelah bulan Ramadan kalau terjadi apa-apa mereka ya pulang masing-masing," ucap dia.

Camat Kasembon Hendra Trijahjono menjelaskan ponpes di Dusun Polosari memang kerap dibanjiri jemaah tiap menjelang Bulan Ramadan. Namun, tambah dia, mereka hanya nyantri untuk memperdalam ilmu agama Islam dan akan kembali ke tempat tinggalnya seusai Bulan Ramadan, bukan lantaran kiamat sudah dekat.

"Memang ada jamaah-jamaah di sana. Itu keterangan dari pondok pesantren. Tapi dalam rangka persiapan jelang kegiatan Bulan Ramadan. Sehingga, ada terjadi peningkatan jamaah biasa setiap tahun jelang bulan Ramadan," kata Hendra di Polres Batu, Kamis.

Sebelumnya sejumlah tokoh dari Pemerintah Kecamatan Kasembon, kepolisian, tokoh ulama, dan tokoh masyarakat menggelar mediasi sekaligus konferensi pers terkait isu yang beredar difasilitasi oleh Polres Batu.

Dalam pertemuan yang digelar Rabu (13/3/2019) malam diperoleh hasil bahwa isu terkait doktrin kiamat sudah dekat, telah dipelintir oleh segolongan pihak dengan mengatasnamakan ponpes di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, yakni Ponpes Miftahu Falahil Mubtadiin.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Okezone