Kronologi Kepindahan 52 Warga Watubonang Ponorogo ke Malang Versi Kades

Kondisi pondokan pusat Thoriqoh Akmaliyah Ash-Sholihiyah atau Thoriqoh Musa cabang Ponorogo di Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, Rabu (13/3 - 2019). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
14 Maret 2019 10:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, PONOROGO -- Kepala Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Bowo Susetyo, menceritakan kronologi awal puluhan warganyahijrah ke Malang. Sebanyak 52 warga Watubonang itu hijrah karena mengikuti guru mereka yang lebih dahulu pergi ke Malang.

Bowo menuturkan di Desa Watubonang ada sesosok kiai yang dihormati pengikutnya bernama Khotimun. Sebelumnya, Khotimun nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin yang ada di Desa Sukosari, Kecamatqn Kasembon, Malang.

Setelah puluhan tahun menimba ilmu di pondok itu, Khotimun kemudian pulang ke desa sekitar tahun 2007/2008. Saat di desa itu, ia kemudian mengajar masyarakat dengan ilmu yang telah didapatnya di pondok.

Bowo mengaku kurang mengetahui bagaimana proses penyebaran ajarannya. Namun, yang jelas masyarakat yang ikut pengajian tersebut pun melakukan ibadah sama seperti umat Islam lainnya.

"Untuk kegiatan pengajian dilakukan seminggu dua kali. Untuk 52 warga yang hijrah ke Malang itu, kita kurang tahu perjalanannya seperti apa," kata dia di Desa Watubonang, Rabu (13/3/2019).

Sebelum 52 warga memutuskan hijrah ke Malang, kata Bowo, terlebih dahulu pimpinan thoriqoh Musa Ponorogo, Khotimun, berpindah ke Malang dua bulan lalu. Sejak kepindahan Khotimun itu, kegiatan pengajian di pondokan yang ada di rumah Khotimun sepi dan tidak ada kegiatan keagamaan.

Kepindahan Khotimun ini juga diikuti beberapa orang jemaah. Secara bertahap mereka pergi ke Malang dengan alasan memperdalam ilmu agama di pondok pesantren Malang.

"Mereka hanya hijrah bukan pindah kependudukan. Karena mereka masih penduduk kami," katanya.

Dari 16 keluarga yang ikut hijrah itu, empat keluarga di antaranya menjual rumah mereka. Sedangkan keluarga lainnya menjual sepeda motor, ternak, hingga perabotan rumah tangga.

Sedangkan uang hasil jual rumah dan aset lainnya itu digunakan sebagai bekal selama bermukim di Malang. Selain menjual rumah, mereka juga ada yang mengajak satu keluarganya ke Malang untuk mengikuti kegiatan di sana.

Dia juga menaruh curiga karena ada kejanggalan dalam kegiatan hijrah warganya ke Malang itu. Menurutnya, saat mengikuti kegiatan di pondok pesantren tidak perlu sampai menjual rumah dan membawa satu keluarga.

"Saat saya tanya alasannya kenapa harus pergi dengan membawa keluarga. Mereka pun seperti kebingungan untuk menjawab. Seperti ada yang disembunyikan," jelas dia.

Diberitakan sebelumnya, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni menyampaikan 52 warga Watubonang yang pindah ke Malang adalah penganut thoriqoh Musa AS. Mereka pindah karena ingin menyelamatkan diri dari kiamat.

Menurut Bupati Ipong, puluhan warga Ponorogo itu pergi ke Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Malang.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya