Bisnis Kopi Jatim Kian Moncer Tapi ...

Pengunjung melihat barista dalam menyeduh kopi di acara Ngopi Bareng di Taman Kelono Sewandono, Ponorogo, Sabtu (23/2 - 2019). (Istimewa/Pemkab Ponorogo)
06 Maret 2019 02:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Jumlah permintaan biji kopi di Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengalami pertumbuhan 75% - 100% seiring dengan tren pertumbuhan bisnis coffee shop atau kedai kopi yang menjamur hampir di seluruh wilayah Indonesia hingga mancanegara.

Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Jatim, Bambang Sriono, mengatakan tingginya pertumbuhan permintaan biji kopi green bean masih belum dapat diimbangi dengan jumlah produksi kopi dari Jatim yang tahun lalu hanya mencapai 59.950 ton, terdiri dari Arabika 14.526 ton dan Robusta 44.974 ton.

"Jumlah produksi kopi Jatim tahun lalu pun menurun 12% dibandingkan produksi 2017 yang mencapai 67.614 ton. Penurunan ini terjadi karena faktor alam, padahal permintaan sedang tinggi-tingginya sampai petani kopi kewalahan," jelasnya kepada Bisnis/JIBI, Selasa (5/3/2019).

Bambang Sriono menambahkan permintaan biji kopi dalam negeri saat ini sangat tinggi sehingga harga jualnya pun lebih tinggi dibandingkan harga jual green bean untuk pasar ekspor.

Untuk doletahui. saat ini harga kopi green bean dalam negeri saat ini mencapai Rp85.000/kg - Rp100.000/kg untuk jenis Arabika, dan untuk Robusta sekitar Rp40.000 - Rp55.000/kg.

"Sedangkan harga untuk pasar ekspor bisa di bawahnya lagi, dan bisa-bisa komposisi antara pasar ekspor dengan dalam negeri akan terbalik alias akan banyak diserap pasar dalam negeri, terutama untuk roast bean," katanya.

Dia mengungkapkan, dari produksi tahun lalu saja serapa pasar ekspor mencapai 51.000 ton dan sisanya untuk pasar domestik. Negara tujuan ekspor kopi terbesar selama ini adalah Swiss, Belanda, Amerika, Jepang, dan Korea Selatan.

Bambang menambahkan sentra-sentra penghasil kopi di Jatim yang saat ini tengah menggeliat adalah Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Dampit Malang, Pasuruan, Trawas di Mojokerto, Kediri, Wonosalam di Jombang, dan kawasan Gunung Lawu Madiun.

"Kami berharap cuaca mendukung produksi kopi tahun ini, setidaknya bisa sama seperti produksi 2017. Selain cuaca kami akan lebih memperhatikan perawatan-perawatan kebun agar hasilnya maksimal," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang berbeda, Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jatim, Tjahjono Haryono, mengatakan tahun ini tren perkembangan bisnis kuliner di Jatim kebanyakan akan bergerak di bidang kopi, terutama kopi lifestyle.

"Rata-rata pertumbuhan industri kuliner di Jatim itu sekitar 20% yang tak lain adalah karena ada perubahan gaya hidup, dan tahun ini kami melihat potensi industri hotel, restoran dan kafe ini masih terbuka lebar sehingga mulai banyak masyarakat berkecimpung di dunia usaha kuliner," jelasnya.

Dia menyebutkan tren penikmat kopi di Indonesia terus tumbuh meski masih sangat kecil dibandingkan negara lain yang justru produksi kopinya sedikit. Di Amerika rerata konsumsi kopi sudah mencapai 200 gelas/kapita dan di Indonesia baru sekitar 20 - 50 gelas/kapita.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya 

Sumber : Bisnis.com