Aprindo Yakin Pasar Ritel 2019 Tumbuh 11% karena Ada Pemilu

Ketua Aprindo, Roy Nicholas Mandey. (Bisnis/Peni Widarti)
27 Februari 2019 06:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Pasar ritel di Tanah Air tahun ini diprediksi bisa tumbuh hingga 11% yang salah satunya disokong adanya momen pemilihan umum yang biasanya mampu mengerek industri makanan minuman dan garmen.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey, mengatakan berkaca pada momen pemilu 2014, sektor ritel mengalami peningkatan konsumsi masyarakat lantaran adanya aktivitas yang masif.

“Nah pertumbuhan konsumsi barang ritel ini bisa mencapai 10% - 15% saat momen pemilu dibandingkan kuartal biasa atau saat bukan saat pemilu. Kemarin waktu pilkada juga terjadi hal yang serupa, jadi ritel tahun ini makin optimitis,” ujarnya seusai acara Bincang Bisnis – Optimisme Perdagangan dan Ekonomi 2019, Selasa (26/2/2019).

Roy Nicholas Mandey mengatakan tahun lalu pertumbuhan ritel nasional hanya mampu mencapai 9%. Padahal, menurutnya, ritel yang normal umumnya tumbuh sekitar 14%. Hal itu terjadi karena sektor ritel masih terbentur regulasi dan juga perubahan consumer behavior.

“Memang ada perubahan pola konsumsi masyarakat, yang sekarang ini pergi ke mal itu bukan untuk belanja tapi untuk lifestyle, makan, ketemu orang. Ini juga cukup berpengaruh,” katanya.

Pengembangan Usaha

Sedangkan masalah regulasi, lanjutnya, masih ada Perpres No.112 yang sampai hari ini belum ditandatangani pemerintah. Perpres tersebut merupakan deregulasi pertama pada 2015.

“Isinya yang harus direvisi adalah pertama pengembangan toko ritel modern yang masih harus berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Nah ini diharapkan tidak perlu lagi menggunakan RDTR agar ritel tidak terbelenggu pengembangan toko,” jelasnya.

Roy memaparkan dari 500 an kabupaten/kota di 34 provinsi, baru ada 40 kota/kabupaten yang memiliki RDTR. Dari 40 kota/kabupaten tersebut, baru 7 kabupaten yang memiliki peta digital untuk pengembangan usaha.

“Yang sudah ada peta digital itu RDTR itu baru Jakarta dan di Jatim ada satu kabupaten saja. Ini bagaimana ritel bisa ekspansi kalau RDTR diatur. Nah supaya bisa tumbuh, berarti jangan berdasarkan RTDR, tapi berdasarkan misalnya RTRW atau zonasi misalnya,” imbuhnya.

Roy menambahkan, saat ini wilayah ekspansi toko ritel modern yang masih sangat potensial yakni berada di Indonesia Timur karena belum banyak tersentuh oleh pengusaha. Dari 40.000 anggota Aprindo nasional, rata-rata di Indonesia timur hanya ada 500 – 600 gerai baru yang mulai bermunculan.

“Tahun ini ekspansi ritel kebanyakan adalah pengembangan minimarket karena memiliki luasan yang lebih kecil dan investasi tidak terlalu besar. Supermarket dan department store juga masih akan berkembang tapi tidak banyak,” ujarnya.

Namun begitu, lanjutnya, untuk melakukan ekspansi ke Indonesia timur, pengusaha masih perlu mendirikan distribution center untuk menampung barang-barang yang dikirim dari wilayah barat Indonesia.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya  

Sumber : Bisnis.com