Harga Jagung di Bojonegoro Diprediksi Turun, Ini Sebabnya

Ilustrasi panen jagung. (Harian Jogja/Desi Suryanto)
26 Februari 2019 18:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, BOJONEGORO -- Sejak tiga pekan terakhir tanaman jagung yang dibudidayakan petani di kawasan hutan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro dan Parengan, Tuban, Jawa Timur, telah panen dengan harga Rp2.200-Rp2.500/kilogram pipilan basah.

Manajer Bisnis KPH Bojonegoro Ahmad Yani memperkirakan harga jagung di kawasan hutan akan cenderung turun, karena masih belum panen raya. "Panen raya jagung ya sekitar awal Maret," ucapnya, Senin (25/2/2019), di Bojonegoro.

Dia menambahkan tanaman jagung di kawasan hutan yang sekarang sudah panen antara lain di Kecamatan Kedungadem, Temayang, Bubulan, Dander, juga kecamatan lainnya, dengan luas ribuan hektare.

Panen tanaman jagung juga berlangsung di kawasan hutan KPH Parengan, Tuban, yang harganya juga tidak jauh berbeda. "Kalau luas tanaman jagung di wilayah kami ya bisa ribuan hektare," ucapnya.

Menurut Ahmad Yani, kesulitan petani pesanggem hutan, karena sebagian besar petani dalam menanam jagung dengan utang, sehingga produksi jagungnya harus dijual kepada tengkulak.

Oleh karena itu, ia mengharapkan pemerintah kabupaten (pemkab) bisa turun tangan membentuk penyangga pangan yang membeli jagung petani kawasan hutan ketika panen.

Asisten Perhutani (Asper) Clebung KPH Bojonegoro Mafud Wawan dan Asper Tondomulo, Kecamatan Kedungadem Kuntoro, memperkirakan harga jagung akan terus turun bisa mencapai Rp1.800/kilogram pipilan basah.

Tidak hanya itu, menurut Kuntoro, para petani pesanggem juga tidak bisa langsung memperoleh uang dari tengkulak, karena menunggu jagung yang dibawa tengkulak laku dijual kepada pedagang.

"Tapi harga jagung yang sekarang berlaku ya tidak berbeda dengan harga jagung tahun lalu dalam waktu panen seperti sekarang. Selama ini jagung kawasan hutan Kecamatan Kedungadem dibeli para pedagang Kediri," kata Kuntoro.

Seorang pedagang palawija asal Desa Balen, Kecamatan Balen, Bojonegoro Sarif Usman, menambahkan sekarang pedagang juga tidak berani membeli dalam jumlah banyak, karena ada kecenderungan harga jagung di kawasan hutan turun.

"Pedagang berani membeli juga menyesuaikan harga pembelian pabrik pakan ternak," ujarnya. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara