Begini Cara Penerbang TNI AU Bertahan Hidup di Wilayah Musuh

Para penerbang TNI AU berlatih survival dasar di Telaga Ngebel, Ponorogo, Kamis (21/2 - 2019). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
22 Februari 2019 20:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, PONOROGO -- Puluhan penerbang pesawat tempur TNI AU berjalan tegap meski hujan deras mengguyur, Kamis (21/2/2019). Siang itu, para penerbang dengan seragam basah kuyub menerobos lebatnya hutan kaki Gunung Wilis di kawasan Telaga Ngebel, Ponorogo. 

Mereka harus bertahan hidup di hutan setelah pesawat yang mereka kendalikan tertembak di bagian mesin. Hingga akhirnya mereka kehilangan kendali dan terpaksa terjun darurat di hutan yang berada di wilayah musuh.

Di hutan, para penerbang tempur harus melewati berbagai jebakan yang dibuat musuh. Sementara itu, untuk makan, para prajurit ini harus memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Apa pun yang ada di alam bisa dimakan. Para prajurit tempur ini pun memburu beberapa ekor ular piton yang kemudian mereka santap. Saat sedang makan, para prajurit ini pun terpaksa harus melarikan diri karena diserang musuh.

Selain di hutan, para penerbang tempur yang pesawatnya jatuh di laut pun harus bisa menyelamatkan diri. Mereka yang hanya berbekal perahu karet harus bisa menyelamatkan diri dari serangan udara para musuh.

Helikopter penyelamat mengevakuasi para penerbang di lautan dalam skenario latihan survival dasar penerbang tempur TNI AU di Telaga Ngebel, Ponorogo, Kamis (21/2/2019). (Madiunpos.com-Abdul Jalil)

Foto: Helikopter penyelamat mengevakuasi para penerbang di lautan dalam skenario latihan survival dasar penerbang tempur TNI AU di Telaga Ngebel, Ponorogo, Kamis (21/2/2019). (Madiunpos.com-Abdul Jalil)

Suara tembakan bertubi-tubi terdengar di Telaga Ngebel Ponorogo, yang dalam latihan survival sea diibaratkan sebagai laut. Para penerbang yang terjatuh dari pesawat mencoba berkali-kali menghindari tembakan musuh.

Helikopter musuh yang berlalu lalang di atas lautan pun menembaki para penerbang yang hanyut terbawa gelombang lautan. Mereka pun harus membalikkan perahu karet mereka sebagai kamuflase supaya tidak diserang musuh.

Dalam situasi seperti itu, mereka harus bisa melakukan evasion atau menghindar dari musuh. Setelah para musuh pergi, helikopter penyelamat pun datang untuk mengevakuasi mereka.

Lettu Pnb Sulistyo Laksono Cahyo merupakan satu dari 43 penerbang Lanud Iswahjudi yang selamat dari serangan musuh dalam skenario latihan survival dasar tersebut.

Menurut Sulistyo, dari seluruh rangkaian latihan survival dasar ini paling berat yakni di bagian pertahanan di hutan. Karena saat di hutan, ia harus lebih waspada terhadap jebakan-jebakan yang dibuat musuh.

"Yang paling berat saat di hutan. Kita harus ekstra hati-hati supaya tidak terkena jebakan," ujar dia.

Bagi seorang prajurit TNI AU, kemampuan dalam bertempur menggunakan pesawat tidaklah cukup. Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk bertahan hidup saat tersesat di hutan maupun jatuh di lautan.

Kemampuan penerbang dalam bertahan hidup di alam dilatih supaya mereka bisa lebih menguasainya. Sehingga, suatu saat ketika terjadi peristiwa tersebut mereka bisa bertahan hidup dan menyelamatkan diri dari serangan musuh.

Sebelum menghadapi tantangan di alam liar, kata Sulistyo, dia bersama penerbang lainnya mendapatkan materi mengenai pertahanan diri dan bertahan hidup. Seperti bagaimana memenuhi kebutuhan hidup seperti makan dengan memanfaatkan alam.

Komandan Latihan Survival Dasar 2019, Mayor Pnb I Kadek Suta Arimbawa, mengatakan ada dua skenario yang dilakukan di latihan survival dasar ini, yaitu skenario bertahan hidup di hutan dan bertahan hidup di laut.

“Pembagian skenario latihan ini bertujuan untuk memberikan dua gambaran yang berbeda kepada pelaku latihan saat harus menghadapi jenis survival yang berbeda,” ujar dia.

Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi, Kolonel Pnb M. Satriyo Utomo, mengatakan ada 43 prajurit TNI AU yang terdiri atas penerbang tempur dan teknisi melaksanakan latihan survival dasar. Seluruh peserta dilatih untuk mampu hidup di alam liar baik di hutan maupun di laut.

Dalam kondisi perang atau menjalankan misi, para prajurit khususnya penerbang tempur wajib bisa bertahan hidup di dalam kondisi alam seperti apa pun.

"Kegiatan ini merupakan simulasi pada saat dalam keadaan peperangan sesungguhnya. Para penerbang ini bisa menghindar dari bahaya dan bertahan hidup di hutan hingga menunggu pertolongan," ujar dia kepada wartawan.

Para prajurit ini dilatih untuk mendirikan tenda dengan beragam teknik, pengenalan parasut, kompas, dan bagaimana bertahan hidup di hutan dengan memanfaatkan lingkungan.

"Ini pertama kalinya kami latihan di Ngebel. Biasanya kami latihan di Telaga Sarangan di Magetan. Dan Alhamdulillah semuanya lancar," ujar dia. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya