Menhub Dukung Pengembangan KA Terintegrasi di Jatim

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Stasiun Gubeng Surabaya, Kamis (21/2 - 2019). (Bisnis/Peni WIdarti)
22 Februari 2019 02:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyatakan siap memberikan dukungan berupa pemikiran, perencanaan, dan dana bagi pengembangan transportasi massal regional Jawa Timur (Jatim) khususnya kereta api (KA).

Menhub menjelaskan dalam membangun moda transportasi yang terintegrasi diperlukan perencanaan matang tanpa melupakan aspirasi local wisdom. Untuk itu, Budi meminta agar para pemangku kepentingan seperti masyarakat, akademisi, dan juga pakar kereta api mendiskusikan lebih dulu.

“Dengan harapan akan keluar satu konsep yang bisa menjadi contoh kota lain. Surabaya sebagai kota terbesar kedua, menurut hemat saya, kita belum terlambat untuk merencanakan sesuatu yang baik. Bukan tidak mungkin Jatim punya MRT, kalau sudah seperti Jakarta, biayanya akan mahal sekali,” katanya seusai membuka FGD Pengembangan Perkeretaapian di Jatim untuk mendukung aglomerasi Surabaya dan sekitarnya, Kamis (21/2/2019).

Budi Karya Sumadi memaparkan Jatim perlu melakukan terobosan dalam membangun transportasi massal mengingat biaya investasi sangat besar dan dampak terganggunya produktivitas warga yang tidak efisien saat proses pembangunan.

“Keterbatasan anggaran jadi asumsi awal yang harus dipikirkan, maka peran swasta pun mulai dipikirkan dalam mengembangkan Transit Oriented Development (TOD), apakah itu melalui Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) atau Pembiayaan Investasi Non-Anggaran (PINA) jadi pilihan, Bappenas bisa merencanakan dengan baik,” jelasnya.

Menhub menambahkan untuk membantu pendanaan, Kemenhub dan Bappenas sedang menyusun sebuah regulasi yang akan menjadi dasar hukum bagi pemerintah pusat untuk membantu pendanaan untuk pembangunan transportasi massal perkotaan.

Kasubdit Transportasi Darat dan Jalan Bappenas, Dail Umamil Asri, mengatakan pengembangan angkutan massal harus mengedepankan pemenuhan transportasi manusia dan logistik, karena KA sendiri merupakan bagian dari upaya memindahkan gaya hidup kendaraan pribadi ke angkutan umum.

“Transportasi kereta api tidak bisa hidup sendiri secara individu tetapi merupakan bagian dari layanan terintegrasi. Maka kami berharap pemda-pemda bisa memenuhi akses dari rumah ke stasiun,” jelasnya.

Dia menambahkan jaringan transportasi sebagai backbone harus dilengkapi penyediaan transit intermoda. Sebagai contoh, sepanjang jalur kereta Lamongan–Pasar Turi tidak ada stasiun dalam jarak beberapa kilometer. Padahal, keberadaan stasiun yang mudah diakses warga ini akan mengubah prilaku masyarakat dalam menggunakan angkutan massal.

“Ini tantangan ke depan bagaimana pemda dan KAI merespons ini. Bagiamana meraih masyarakat di sepanjang koridor agar mau beralih ke angkutan massal. Seperti di Jakarta itu ada stasiun yang berada di tengah perkampungan, setiap wilayah punya titik stasiun,” imbuhnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya 

Sumber : Bisnis.com