Kadin Jatim Yakin Industri Manufaktur Jatim Tumbuh 7,5% Tahun Ini

Ilustrasi pembangunan pabrik di kawasan industri. (Bisnis/Dwi Prasetya)
14 Februari 2019 00:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Tahun politik membawa optimisme bagi banyak kalangan. Salah satunya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur yang memperkirakan sektor industri manufaktur di Jatim tahun ini masih bisa tumbuh 7%-7,5% seiring dengan adanya potensi perputaran uang di momen pemilu serta hari raya keagamaan.

Tim Ahli Kadin Jatim, Jamhadi, mengatakan berkaca pada momen pilkada tahun lalu, di Jatim terdapat uang yang beredar sekitar Rp800 miliar dari APBD yang cukup berpotensi menggerakkan berbagai sektor usaha di sekitarnya.

“Begitu juga dengan pesta demokrasi tahun ini, walaupun ada Pilpres dan pemilihan dewan, akan ada Rp24,8 triliun uang yang beredar di seluruh Indonesia, di situ pula ada bisnis-bisnis yang akan tumbuh misalnya percetakan, penyiaran, dan logistik,” jelasnya kepada Bisnis/JIBI, Rabu (13/2/2019).

Berdaarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, pada kuartal IV tahun lalu kinerja produksi industri manufaktur skala besar dan sedang di Jatim juga mengalami pertumbuhan positif yakni mampu mencapai 7,19% dibandingkan periode yang sama 2017.

Sedangkan manufaktur skala mikro dan kecil cuma bisa tumbuh 4,11% dibandingkan periode yang sama 2017. Pertumbuhan manufaktur skala mikro dan kecil selama semester II/2018 itu pun sempat mengalami kontraksi.

Pada kuartal III produksi manufaktur mikro dan kecil menurun 1,93% dibandingkan kuartal II, dan  kuartal IV produksi turun 5,44% dibandingkan kuartal III. Menurut Jamhadi, selama ini industri skala mikro dan kecil atau UMKM tidak kurang dalam mendapat pembinaan dari Pemprov Jatim.

Namun, lanjutnya, pemerintah masih perlu membuat strategi lain yakni dengan membuat kelompok industri per sektor dan menentukan standar masing-masing sektor agar lebih fokus dalam pembinaan.

“Misalnya ada klaster industri makanan minuman, lalu industri fashion, kerajinan, masing-masing dibuatkan standardisasi, dibuatkan SNI nya, spesifikasinya dan dimodali oleh pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UMKM,” jelasnya.

Jamhadi menambahkan sebenarnya UMKM merupakan usaha yang paling bisa bertahan di tengah terpaan kondisi ekonomi yang tidak menentu. Untuk itu, pemerintah perlu mendorong lagi sektor yang paling banyak berkontribusi terhadap perekonomian Jatim ini agar mampu membuat produk yang berkualitas dan kompetitif.

“Tugasnya pemerintah dan Kadin nanti yang akan mencari pasar,” imbuhnya.

Pada bagian lain, Kepada BPS Jatim Teguh Pramono mengungkapkan sedikitnya ada enam industri manufaktur mikro kecil yang mengalami kontraksi atau tumbuh negatif di atas 10% pada 2018.

Di antaranya yakni industri pengolahan tembakau -45,45%, minuman -37,16%, alat angkutan lainnya -29,02%, industri pengolahan lainnya -22,88%, tekstil -16,15% dan kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer -11,61%.

“Sedangkan industri mikro kecil yang bisa tumbuh di atas 10% itu seperti barang galian bukan logam, pakaian jadi, furnitur, barang logam bukan mesin, industri percetakan dan reproduksi media rekaman,” jelasnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Bisnis.com