Seperti Ini Dampak Alih Fungsi Lahan di Kota Madiun

Sawah. (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
12 Februari 2019 12:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Hasil produksi padi petani lokal Kota Madiun, Jawa Timur, tak mencukupi kebutuhan beras sehari-hari warga setempat.

Kondisi itu merupakan dampak pengurangan lahan pertanian Kota Madiun karena dialihfungsikan menjadi perumahan dan pertokoan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun Muntoro Danardono mengatakan setiap tahun diperkirakan luas lahan pertanian di Kota Madiun rata-rata berkurang sebanyak 2 persen.

"Lahan pertanian di Kota Madiun mengalami penurunan seiring dengan penambahan permukiman warga dan alih fungsi lahan nonpertanian," ujar Muntoro Danardono kepada wartawan di Madiun, Senin (11/2/2019).

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun mencatat luas lahan produktif di Kota Madiun pada tahun 2016 mencapai 926 hektare, tahun 2017 turun menjadi 923 hektare, dan sampai akhir tahun 2018 menjadi 901 hektare.

Sesuai data, ungkap dia, dalam setahun kebutuhan konsumsi beras masyarakat di Kota Madiun mencapai 13.800 ton. Sementara, beras hasil produksi pertanian yang mampu disediakan oleh petani Kota Madiun hanya sekitar 11.000 ton.

Untuk menutup kekurangan itu, Kota Madiun bergantung pada pasokan wilayah tetangga, di antaranya Kabupaten Madiun.

Muntoro menjelaskan untuk menekan alih fungsi lahan, Pemkot Madiun sudah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang (RTRW) Wilayah Kota Madiun tahun 2010 hingga 2030.

Dalam perda tersebut terdapat lahan pertanian berkelanjutan yang dilarang untuk dialihfungsikan, yakni seluas 444 hektare hingga tahun 2030.

Adapun, wilayah yang ditetapkan untuk pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan (sawah) sebagai lahan pertanian berkelanjutan, terdapat di daerah Kelurahan Kejuron, Pangongangan, Demangan, Kuncen, Josenan, Manguharjo, Kelun, Tawangrejo, dan Rejomulyo.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara