DBD Telan 4 Nyawa di Bojonegoro

Ilustrasi fogging atau pengasapan untuk membasmi nyamuk. (Solopos/dok.)
30 Januari 2019 14:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, BOJONEGORO -- Korban jiwa akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, bertambah. Sejak 1 Januari 2019 hingga kini, tercatat empat warga Bojonegoro meninggal dunia setelah dipastikan mengidap penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes Aegypti.

Sementara, total penderita DBD mencapai 177 orang. Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Wheny Dyah, di Bojonegoro, Rabu (30/1/2019), mengatakan lokasi empat penderita DBD yang meninggal dunia di Kecamatan Kasiman, Margomulyo, Tambakrejo, dan Ngraho.

Ia mengakui jumlah penderita DBD di daerahnya cenderung meningkat sejak 2018 terus berlanjut memasuki Januari, disebabkan salah satu faktornya pengaruh meningkatnya curah hujan.

"Di berbagai provinsi di Indonesia ada kecenderungan penderita DBD naik termasuk Jawa Timur. Karena kenaikan penderita DBD di Bojonegoro juga cukup tinggi maka antisipasinya dengan memberantas sarang nyamuk," kata dia.

Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah menginstruksikan kepada seluruh camat, kepala desa dan kelurahan untuk melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui penerapan satu rumah satu Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

Di dalam surat edaran tertanggal 28 Januari 2019 itu diinstruksikan kepada camat, kepala desa dan kelurhan untuk melaksanakan gerakan serentak satu rumah satu juru jumatik di lingkungan rumah, kantor, tempat-tempat umum, sekolah, dan pasar.

Selain itu juga melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara menguras, mengubur , mendaur ulang (PSN 3 M plus) secara rutin setiap minggu. Memantau peningkatan kasus DBD di wilayahnya dan segera melakukan intervensi langsung.

"Masih banyak ditemukan jentik nyamuk aedes aegypty di lingkungan rumah tangga, instansi dan tempat-tempat umum," katanya.

Menurut dia, pengasapan (fogging) mengunakan insektisida hanya mampu membunuh nyamuk dewasa saja dan dapat membahayakan kondisi kesehatan manusia. Oleh karenanya (pengasapan) tidak dilakukan secara rutin dan bukan setrategi yang baik dalam pencegahan DBD.

Imbauan juga disampaikan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dan menghindari gigitan nyamuk di pagi hari berpukul 07.00 WIB-10.00 WIB dan sore pukul 15.00 WIB-17.00 WIB.

Selain itu kepada rumah sakit (RS) dan tenaga kesehatan diimbau  lebih waspada DBD dan mengaktifkan koordinasi sistem kewaspadaan dini rumah sakit (SKDR)."Fogging bukan upaya pencegahan dan tidak efektif tanpa diiringi dengan PSN yang berkualitas," kata Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro Ninik Susmiarti.

Diberitakan madiunpos.com, Senin (21/1/2019), dua penderita DBD di Kabupaten Bojonegoro meninggal pada awal tahun 2019 ini. Dinkes setempat mewaspadai adanya kecenderungan meningkatnya penderita DBD mencapai 97 kasus.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara