Duta Besar dan Konjen RI Pelajari Potensi Ekspor Jatim

Sekjen Kemenlu Mayerfas (tengah) bersama Ketua Forkas Jatim Nur Cahyudi (kiri) meninjau area pameran produk Jatim, Senin (28/1 - 2019). (Bisnis/Peni Widarti)
29 Januari 2019 10:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Sebanyak 21 duta besar dan 2 konjen RI menggali potensi ekspor komoditas produk manufaktur asal Jawa Timur (Jatim) melalui kerja sama dengan Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jatim. Kegiatan itu difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). 

Sekjen Kemenlu, Mayerfas, mengatakan sebelum memberangkatkan para duta besar yang telah dilantik Presiden Joko Widodo pada Januari 2019 ke berbagai negara, Kemenlu menggelar dialog dengan para pengusaha untuk menjajaki potensi komoditas ekspor.

"Dan pertemuan 21 duta besar RI dan 2 konsulat jenderal dengan pengusaha Jawa Timur ini merupakan yang pertama kalinya dalam rangka pembekalan para duta besar yang akan berangkat ke berbagai negara pada Februari dan Maret nanti," ujarnya di sela-sela Dialog 23 Duta Besar dan Konsul RI dengan Forkas Jatim, Senin (28/1/2019).

Dia mengatakan roadshow para duta besar tersebut merupakan bagian dari program utama Presiden Jokowi untuk meningkatkan perekonomian Indonesia, terutama sektor ekspor.

"Kemenlu mau memberikan fasilitas untuk para pengusaha agar perdagangan antara Indonesia dengan berbagai negara bisa meningkat," katanya.

Mayerfas menambahkan saat ini Kemenlu sudah memiliki sistem Smart Embassy yang tersedia di setiap Kedutaan Besar RI (KBRI) di berbagai negara. Smart Embassy tersebut berisi berbagai data tentang RI termasuk data produk Indonesia, display produk hingga detail perusahaannya.

"Jadi pasar yang ingin melakukan impor produk dari Indonesia, di KBRI mereka bisa mengakses Smart Embassy tersebut. Misalnya ingin beli emas dari Indonesia, siapa produsennya, konsumen akan langsung berhubungan dengan industri di Indonesia, dan itu harus kita akan verifikasi," jelasnya.

Rencananya, lanjut Mayerfas, Kemenlu akan memasukkan data perusahaan dan kontak asosiasi pengusaha di Jatim ke dalam Smart Embassy yang tergolong baru dioperasikan pada tahun lalu.

Dia menambahkan sampai saat ini sudah cukup banyak perusahaan ekspor yang masuk dalam data Smart Embassy. Kebanyakan adalah produsen mebel, tekstil, sepatu dan kaus kaki, dan produk unggulan makanan.

"Komoditas ekspor pun lihat negaranya, misalnya ke Afrika, itu kebanyakan yang kita ekspor adalah produk makanan dan sabun cuci," imbuhnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Terkait soal kendala regulasi impor barang di sejumlah daerah yang kerap dianggap menghambat, kata Mayerfas, para duta besar akan berupaya untuk terus menjalin kerja sama perdagangan dengan negara tersebut.

"Kalau ada policy yang sulit, itu jadi tugas kita di perwakilan untuk mengurangi kendala-kendala. Itulah sebabnya, setiap duta besar harus proaktif dan punya program masing-masing," imbuhnya.

Ketua Forkas Jatim, Nur Cahyudi, mengatakan pengusaha Jatim menyambut gembira pertemuan para duta besar dan konjen dengan asosiasi pengusaha karena mereka bisa langsung bertukar informasi dan kontak person, termasuk langsung mempromosikan produknya kepada Duta Besar RI.

"Kami senang sekali bisa ketemu para duta besar yang mengemban amanah untuk mempromosikan produk Jatim. Diharapkan langkah ini dapat meningkatkan ekspor Jatim," katanya.

Nur memaparkan pada tahun lalu Jatim telah mampu mengekspor sekitar US$20 miliar atau naik 4,4% dibandingkan 2017. Khusus produk perhiasan dan permata merupakan peringkat yang pertama, disusul produk mebel.

"Di Forkas sendiri ada 41 asosiasi pengusaha, mulai mebel, sepatu, tekstil, garmen, makanan, mereka ikut memamerkan produknya kepada para Duta Besar. Bahkan segmen UMKM yang belum pernah ekspor juga ikut hadir dan pamer produknya," imbuhnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Bisnis.com