200 Penderita Baru HIV/AIDS di Kota Kediri Mayoritas Pria

Ilustrasi HIV - AIDS. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
29 Januari 2019 06:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, KEDIRI -- Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Kediri, Jawa Timur, sepanjang 2018 diketahui terdapat lebih dari 200 pasien baru yang mayoritas laki-laki.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Suprianto di Kediri, Minggu (27/1/2019), mengatakan akumulasi penderita HIV/AIDS di Kota Kediri mulai 2003 hingga 2018 ini sekitar 1.300 penderita.

"Di 2018 saja, ini sampai Desember ada 200 lebih. Kami himpun data dari laporan yang masuk," kata dia.

Hendik Suprianto menambahkan data tersebut diakumulasi dari berbagai layanan kesehatan wilayah Kota Kediri. Mereka juga berasal dari berbagai daerah dan memang memeriksakan kondisi kesehatannya di Kediri.

Untuk layanan kesehatan HIV/AIDS di Kediri, dia menyebut antara lain RSUD Gambiran II Kediri, Klinik Seroja Kediri, serta Puskesmas Pesantren I Kediri.

Lebih lanjut, Hendrik Suprianto mengatakan dari temuan tersebut yang lebih banyak justru laki-laki hingga sekitar 60 persen. Mereka mayoritas juga masih berusia produktif antara 20 hingga 40 tahun.

Dimungkinkan karena mobilitas lebih tinggi yang membuat mereka terkena penyakit yang menyerang kekebalan tubuh tersebut.

"Persentase kasus HIV/AIDS yang tinggi pada laki-laki. Kami akumulasi mereka berusia produktif, karena penularan ini bisa jadi terkait mobilitas, perilaku. Misalnya, intensitas keluar malam dan berpotensi bersinggungan, karena ibu-ibu lebih banyak tinggal di rumah," katanya.

Dinkes saat ini intensif memantau kesehatan mereka yang terkena HIV/AIDS. Untuk pasien yang menderita HIV dari kondisinya diketahui baik seperti orang sehat pada umumnya.

Hal itu berbeda dengan AIDS yang notabene kondisinya sudah mengkhawatirkan. Namun, untuk pasien yang positif HIV dianjurkan selalu mengonsumsi antiretroviral (ARV).

Obat ini, kata dia, memang tidak dapat menyembuhkan dengan sepenuhnya orang yang sakit tersebut, namun dengan obat tersebut mampu menekan virus, sehingga kondisi pasien menjadi baik.

"ARV itu obat untuk menekan virus serendah mungkin. ARV membatasi perkembangan virus, menjadi sangat sedikit," katanya.

Ia juga menambahkan, selama dua tahun terakhir di Kota Kediri terdeteksi 10 ibu hamil yang positif terkena HIV. Walaupun terkena HIV, anak mereka ternyata justru dinyatakan negatif menderita HIV.

Kasus itu diketahui saat pemeriksaan dalam program pencegahan, penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA) di sejumlah tempat layanan kesehatan yang ditunjuk di Kota Kediri.

Dinkes juga mengimbau masyarakat tidak menjauhi mereka yang terkena HIV maupun AIDS, sebab untuk penularan tidak dengan media jabat tangan. Penyakit tersebut bisa menular dengan cara hubungan seksual bebas, jarum yang tidak steril, dan berbagai cara lainnya. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara