Ekspor Kayu Olahan Jatim Ditarget Naik 18%

Ilustrasi ekspor impor (Bisnis/Paulus Tandi Bone)
22 Januari 2019 00:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA --Volume ekspor produk kayu olahan dari Jawa Timur tahun ini ditargetkan bisa meningkat 15% -18%. Ketua Indonesia Sawmill and Wood Working Association (ISWA) atau Asosiasi Kayu Gergajian dan Olahan Indonesia Jawa Timur Choiril Muchtar M. mengatakan harapan peningkatan ekspor tahun ini seiring dengan besarnya potensi industri kayu di Jatim.

Selama ini, ungkap dia, Jawa Timur telah berkontribusi sekitar 39,7% terhadap total industri kayu nasional. "Selain itu, dari internal para pengusaha kayu olahan di sini tahun ini ingin meningkatkan produktivitas baik dari sisi sumber daya manusianya maupun produksinya," kata Choiril Muchtar M., Senin (21/1/2019).

Dia mengungkapkan tahun lalu sepanjang Januari - September, volume ekspor kayu olahan atau barang jadi dan barang setengah jati mencapai 1,3 juta m3.

Pada periode 2018 tersebut, ekspor kayu olahan dari Jatim tersebut mengalami pertumbuhan sampai 24% dibandingkan 2017 lantaran adanya momen perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Sehingga pengusaha mendapatkan kesempatan untuk meraih pasar di luar negeri.

"Akibat perang dagang itu, beberapa pengusaha memanfaatkan potensi pasar ekspor karena banyak konsumen AS yang selama ini membeli produk dari China, akhirnya mengalihkan pembelian kayu ke Indonesia," ungkap Choiril Muchtar M.

Adapun selama ini produk kayu olahan Jatim kebanyakan diekspor ke China dengan porsi sekitar 31%, selanjutnya disusul oleh Jepang, Australia, dan Amerika Serikat.

ISWA mencatat saat ini total industri kayu olahan dan gergajian di Jatim 986 perusahaan baik level besar, sedang, hingga kecil. Dari total perusahaan tersebut, sebanyak 205 perusahaan merupakan industri yang aktif berorientasi ekspor.

Choiril menambahkan untuk meningkatkan produktivitas tahun ini, industri membutuhkan dukungan dari pemerintah misalnya pemanfaatan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk melatih para tenaga kerja.

"Selain itu akan lebih bagus ada bantuan modal dari perbankan, terutama untuk sektor UMKM karena selama ini UMKM masih kesulitan mengakses modal," ujarnya.

Dia menambahkan kendala terakhir yang kerap dialami pengusaha kayu olahan adalah terbatasnya impor barang modal seperti mesin-mesin dan bahan baku penunjang seperti cat khusus permintaan konsumen yang didatangkan dari negara pembeli.

"Untuk meningkatkan produktivitas ini diperlukan modernisasi mesin. Jadi seharusnya impor barang modal jangan dibatasi, sebab selama ini impor kita didominasi oleh barang konsumsi," imbuhnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Bisnis.com