Bisnis Kuliner Jatim Diprediksi Kian Moncer di 2019, Ini Alasannya

Ilustrasi Go/Food Festival. (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)
12 Januari 2019 00:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur (Jatim) memprediksi tren bisnis kuliner lokal di segmen usaha mikro kecil menengah (UMKM) tahun ini makin tumbuh hingga mencapai 25% seiring perubahan gaya hidup dan daya beli masyarakat.

Ketua Bidang Restoran Apkrindo Jatim, Andre Soenjoto, mengatakan berkaca pada tren 2018, pertumbuhan usaha-usaha baru bidang kuliner semakin menggeliat, setidaknya bisa tumbuh mencapai 20%.

"Pertumbuhan usaha baru kuliner ini bukan hanya kerena daya beli masyarakat untuk jajan, tapi juga ada perubahan gaya hidup untuk menikmati kuliner secara offline ataupun online melalui aplikasi Go Food dan Grab Food," jelasnya, Kamis (10/1/2019).

Andre Soenjoto mengatakan kehadiran aplikasi layanan pesan antarmakanan itu memancing orang untuk membuat usaha kuliner dengan menciptakan atau mengkreasikan beragam jenis makanan atau minuman baru yang belum pernah ada sebelumnya.

"Masyarakat secara tidak langsung berlomba-lomba untuk membuat usaha sendiri di rumah, lalu menjualnya di online dan akhirnya bisa dikenal masyarakat luas," kata dia.

Hanya saja, kata Andre Soenjoto, hanya produk yang konsisten dengan rasa, kualitas, maupun waktu lah yang akan mampu untuk berkembang dan bisa naik kelas dari usaha mikro menjadi kecil dan usaha kecil menjadi menengah.

"Yang jelas, kalau produknya enak, maka akan dicari lagi oleh pasar, tapi sekarang masih banyak yang tidak konsisten waktu, kadang berjualan, kadang tidak, akhirnya yang seperti ini akan ditinggalkan oleh pelanggannya karena kecewa saat dibutuhkan tidak ada," jelas Andre Soenjoto.

Andre menambahkan 2019 akan ada tren kuliner dengan konsep street food yang menjual makanan dan minuman tradisional atau khas nusantara dengan berbagai kreasi. Pertumbuhan usaha kuliner baru juga akan lebih mengedepankan harga jual untuk kelas menengah ke bawah karena segmen tersebut yang paling besar ada di Indonesia.

"Dan memang pasarnya sekarang berubah, segala kelas ekonomi suka jajan yang unik-unik, tradisional dan murah dibandingkan jajan makanan Western," imbuh dia.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara