20 Warga Tulungagung Kena Demam Berdarah, Dinkes Gelar Fogging

Ilustrasi fogging atau pengasapan untuk membasmi nyamuk. (Solopos/dok.)
08 Januari 2019 16:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiupos.com, TULUNGAGUNG -- Penyakit demam berdarah kini masih menjangkiti puluhan warga Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menggelar kegiatan pengasapan (fogging) guna mengantisipasi meluasnya serangan demam berdarah.

Pengasapan pertama dilakukan di Desa Pucung Lor, Kecamatan Ngantru, Tulungagung, Senin (7/1/2019).

Ketua tim fogging Dinkes Tulungagung Supriyono mengungkapkan di Desa Pucung Lor ada enam warga terjangkit demam berdarah dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.

"Kami lakukan fogging di Desa Pucung Lor, di sini ada enam penderita DBD," katanya. Supriyono menuturkan, awal Januari ini Dinkes Tulungagung telah menerima laporan penderita DBD sebanyak 20 orang termasuk di Pucung Lor.

Supriyono menambahkan dalam melakukan fogging, instansinya menggunakan insektisida dicampur dengan solar untuk menimbulkan asap.

"Kalau pakai insektisida saja tidak bisa keluar asap, maka kami campur dengan solar. Dengan takaran 350 cc dicampur 20 liter solar," katanya.

Berdasarkan data yang dimiliki Dinkes Tulungagung,  jumlah penderita demam berdarah selama periode Januari-Desember 2018 mencapai 545 jiwa, dengan tujuh orang di antaranya meninggal dunia. Sementara pada 2017 ada 128 penderita DBD, yang meninggal empat orang.

Penderita demam berdarah yang meninggal dunia 70 persen di antaranya adalah anak-anak, sedangkan 30 persen sisanya telah berusia dewasa.

"Meskipun mengalami kenaikan, ini masih dalam kategori wajar dan belum dinyatakan kejadian luar biasa (KLB)," kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka.

Didik Eka memaparkan selama 12 bulan terakhir untuk angka tertinggi penderita DB terjadi pada November, yakni sebanyak 94 kasus, sedangkan bulan Oktober 80 kasus.

Peningkatan penderita DB tersebut dipengaruhi faktor cuaca serta tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. "Pada 2017 angkanya memang rendah, karena curah hujan yang terjadi pada waktu itu juga sangat rendah," ujarnya.

Didik Eka menuturkan kasus kematian penderita DBD tersebut juga dipengaruhi kesigapan pihak keluarga untuk memantau dan membawa penderita ke rumah sakit maupun pusat layanan kesehatan lainnya. Rata-rata pihak keluarga penderita belum begitu memahami grafik serangan DBD.

Hal itu diketahui ketika melihat kondisi penderita pada saat tiga atau empat hari setelah dirawat mengalami penurunan panas kemudian memilih untuk pulang. "Terkadang setelah itu terjadi peningkatan panas lagi pada penderita, justru inilah fase yang bahaya," tuturnya. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara