Tembang Sabin Menunggu Dewi Sri Meriahkan Festival Pedhut Kuning Madiun

Penari dari Dance Company Malang berlenggak lenggok saat membawakan tarian berjudul Tembang Sabin dalam Festival Pedhut Kuning yang digelar masyarakat Desa Brumbun, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Sabtu (22/12/2018) sore. (Madiunpos.com - Abdul Jalil)
24 Desember 2018 20:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Kelompok seni asal Malang, Dance Company, memeriahkan Festival Pedhut Kuning yang digelar masyarakat Desa Brumbun, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Sabtu (22/12/2018) sore. Mereka menampilkan tarian bertema Tembang Sabin yang dibawakan di alam terbuka di lahan persawahan milik warga setempat.

Tarian Tembang Sabin ini menceritakan tentang petani yang sedang menunggu Dewi Sri, dewi kesuburuan. Dalam tarian itu, sesosok petani sedang mengolah lahannya dengan penuh kesabaran. Petani itu bergelut dengan lumpur, seluruh badannya dipenuhi dengan lumpur sawah.

Suara iringan dari kaleng bekas mengetuk memberikan suasana khas persawahan. Petani itu menunggu kemunculan sesosok Dewi Sri yang akan memberikan kesuburan pada padi seusai ditanamnya.

Hingga akhirnya sesosok dewi bermahkota muncul memberikan kendi sebagai perwujudan kesuburan. Air dalam kendi itu disiramlah ke seluruh bagian sawah supaya tanaman padi yang ditanam subur dan panennya melimpah.

Seniman Dance Company Malang, Winarto Ikram, menuturkan Tembang Sabin ini terdiri dari dua kata dari bahasa Jawa. Tembang artinya senandung atau lagu, sedangkan sabin artinya sawah.

Tarian ini, kata dia, mengingatkannya pada sesosok ibunya yang seorang petani. Saat menunggu masa panen padi tiba, ibunya selalu bersenandung di pematang sawah. Di pematang, ibunya dengan sabar menunggu kehadiran Dewi Sri yang akan memberikan kesuburan kepada tanaman padi.

"Keriangan itu dulu muncul. Tembang Sabin ini merupakan penanda. Sebuah cerita masa lalu. Tentang lagu merdu yang dinyanyikan di pematang sawah," kata dia kepada Madiunpos.com seusai tampil.

Tembang-tembang yang dinyanyikan kala itu menjadi sebuah harapan bagi setiap petani yang menggarap sawahnya. Dewi kesuburan akan muncul dan memberikan kesuburan pada tanaman padinya.

"Subur artinya berlimpah. Ini berarti rezeki petani melimpah enggak pernah kekurangan," ujarnya.

Tarian ini juga menjadi sebuah kritik terhadap masyarakat sekarang yang semakin menjauhi alam. Terlebih kepada petani penggarap. Lahan pertanian mereka adalah aset yang harus dipertahankan dam disayangi sepenuh hati.

Dalam tarian itu, seorang petani tidak hanya bertugas sekadar menanam atau bercocok tanam. Tapi lebih dari itu, petani harus bisa menyetubuhi lahan pertaniannya secara intim. "Itu supaya petani bisa menyatu dengan lahan yang dimilikinya," ujar dia.

Melalui tarian Tembang Sabin dalam Festival Pedhut Kuning ini diharapkan bisa membangkitkan kecintaan petani terhadap pekerjaannya. Lebih itu, pemuda-pemuda desa supaya lebih terketuk hatinya untuk menekuni pertanian.

Festival Pedhut Kuning ini, kata Winarso yang menjadi ketua panitia festival, menjadi ajang bersyukur masyarakat terhadap rezeki yang telah diterima masyarakat. Hal itu ditandai dengan pemotongan padi yang sebentar lagi akan memasuki masa panen.

"Festival ini baru diadakan. Ada berbagai kegiatan seni dan budaya yang digelar," ijar Winarso.