Begini Strategi KPU Pahamkan 40 Juta Pemilih Pemula soal Esensi Pemilu

Ketua KPU Arif Budiman pada KPU Goes to Campus di UMM, Senin (15/10 - 2018). (Bisnis/Istimewa)
17 Oktober 2018 02:05 WIB Choirul Anam Madiun Share :

Madiunpos.com, MALANG — Menjelang pemungutan suara Pilpres dan Pemilu Legislatif 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) kian gencar  memberikan sosialisasi dan perhatian khusus kepada 40 juta pemilih pemula di Tanah Air.

Sebab, para pemilih pemula itu akan menentukan berlangsungnya pelaksanaan Pemilu di periode-periode berikutnya secara berkelanjutan.

Ketua KPU Arif Budiman mengatakan pendidikan pemilih terutama pemilih pemilih pemula dalam pemilu sangat penting. Mereka perlu diberikan pemahaman tentang Pemilu, tak sekadar tentang menggunakan hak pilih.

“Kampus dipilih untuk memberikan pendidikan tentang pemilu karena mahasiswa itu mampu menjadi agen-agen yang mungkin nanti meneruskan informasi sosialisasi tentang Pemilu,” ucapnya di sela-sela KPU Goes to Campus di Universitas Muhammadiyah Malang, Senin (15/10/2018).

Dengan aktivitas mereka sebagai generasi milenial, ungkap Arif Budiman, mahasiswa diharapkan bisa memberikan pendidikan tentang pemilu lewat media sosial sehingga bisa efektif dan cepat. Dia menjelaskan jumlah pemilih pemula sekitar 40 juta orang.

“Jadi termasuk orang yang pertama kali menggunakan hak pilihnya, maka menyasar mereka itu menjadi cukup signifikan nah nanti pengaruhnya itu cukup penting,” ujarnya yang dilansir Bisnis/JIBI.

Dengan pendidikan tentang pemilu yang baik, ungkap Ketua KPU, pemilih pemula diharapkan dapat aktif menjadi agen sosialisasi pemilu. Sehingga pelaksanaan pemilu menjadi lebih baik karena pemilihnya banyak yang sudah paham mengenai esensi dari pesta demokrasi tersebut.

Sebaliknya jika pendidikan pemilu gagal, ungkap dia, tingkat partisipasi pemilih dari golongan muda pada pemilu berikutnya menjadi jauh lebih berat ditingkatkan. Bukan tidak mungkin angka partisipasi pemilihakan sangat drastis menurun.

“Target kita 77,5%. Melihat tren nya ini terus naik. Mudah-mudahan pada 2019 karena Pemilu-nya baru bagi mereka, maka semangatnya baru dan melibatkan begitu banyak orang. Itu mudah mudahan akan naik lah partisipasinya,” ujarnya.

Untuk mengatasi apatisme di kalangan calon pemilih, kata dia, selain mendatangi kampus, KPU juga mendirikan Rumah Pintar Pemilu. Rumah Pintar Pemilu didirikan di seluruh satker termasuk salah satunya didirikan di tempat wisata di Taman Pintar Yogya dengan tingkat kunjungan 1 juta/tahun.

Cara lainnya, KPU melakukan sosialisasi lewat Relawan Demokrasi, suatu kelompok komunitas yang dibentuk KPU terdiri atasi berbagai macam unsur, ada mahasiswa, kelompok perempuan, penyandang disabilitas, kelompok marginal .

“Nah mereka juga kita didik kita latih untuk menyebarkan informasi tentang pemilu dengan banyak cara. Goes to Kampus menjadi salah satunya,” ucapnya.

Dosen FISIP UMM Wahyudi Winarno mengatakan Pemilu seharusnya membuka ruang kedaulatan pemilih. Jika ditinjau dalam persepektif sosiologis, Pemilu selaiknya memenuhi beberapa hal antara lain Pemilu harus menjadi simbol demokrasi yang memiliki makna positif bagi para pemilih.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya