443 Warga Wonogiri Terinfeksi HIV/AIDS, 131 Penderita Sudah Meninggal

Wakil Bupati Wonogiri, Edi Santosa, menandatangani papan komitmen penanggulangan HIV/AIDSdi Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Sabtu (1/12 - 2018) siang. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
01 Desember 2018 15:30 WIB Ichsan Kholif Rahman Madiun Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Sejumlah 443 warga Kabupaten Wonogiri terinfeksi HIV/AIDS. Mereka tersebar di seluruh kecamatan di Wonogiri Sukses. Dari jumlah tersebut, 131 orang di antaranya telah meninggal dunia. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri, Adhi Dharma, saat ditemui solopos.com di Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri dalam acara talkshow Hari AIDS Sedunia, Sabtu (1/12/2018) pagi, mengatakan Provinsi Jawa Tengah berada di urutan keempat jumlah penderita HIV/AIDS terbanyak di Indonesia.

Urutan pertama yakni Provinsi DKI Jakarta, disusul Jawa Timur, dan Papua.

“DKI Jakarta menempati urutan paling tinggi, sedangkan jumlah masyarakat Wonogiri yang merantau cukup tinggi pula. Perantau menjadi jumlah terbanyak penderita HIV/AIDS di Wonogiri kemudian Ibu Rumah Tangga (IRT). Para perantau yang berada di perantauan lama tidak pulang, setelah kembali justru menularkan kepada istrinya. Tentunya hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah kabupaten. Di Soloraya, Wonogiri berada di urutan ketiga setelah Kota Solo dan Sukoharjo,”ujarnya.

Ia menambahkan hingga triwulan ketiga pada tahun 2018 telah menemukan sejumlah 55 kasus baru. Dia memperkirakan masih banyak penderita HIV/AIDS yang menutup diri karena mengidap penyakit yang menyerang kekebalan tubuh itu. Masih tertutupnya orang yang terpapar virus HIV/AIDS dikarenakan stigma negatif dari lingkungan sosialnya.

Adhi Darma mengimbau penderita yang belum terbuka untuk melaporkan kepada Puskesmas setempat untuk diberikan konseling dan penanganan secara gratis baik obat, pemeriksaan medis, hingga cek laboratorium.

Wakil Bupati Wonogiri, Edi Santosa, mengatakan saat ini seluruh desa yang berjumlah 295 di Kabupaten Wonogiri telah dibentuk kelompok Warga Peduli AIDS (WPA) yang berfungsi sebagai upaya penekanan angka penularan penyakit HIV/AIDS.

WPA memberikan edukasi, pembinaan, dan pelatihan menyoal bahaya HIV/AIDS. Hal itu agar seluruh masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan mengenai HIV/AIDS yang benar sehingga tidak ada diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi dalam kehidupan sosialnya.

“Penyandang penyakit HIV/AIDS seakan dianggap sangat berbahaya dan harus disingkirkan padahal tidak itu, penularan HIV/AIDS tidak melalui cara yang mudah seperti berjabat tangan. Hal ini harus menjadi perhatian khusus untuk disosialisasikan kepada masyarakat secara masif, jangan sampai para penderita dikucilkan,” ujarnya.