Merasa Dilecehkan, Seratusan Ojol Madiun Tuntut Prabowo Minta Maaf

Sejumlah tukang ojek online di Kota Madiun membentangkan spanduk berisi tuntutan supaya capres 02 Prabowo Subianto meminta maaf dalam aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Madiun, Selasa (27/11/2018). (Madiunpos.com - Abdul Jalil)
27 November 2018 13:00 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Seratusan pengemudi ojek online (ojol) di Kota Madiun menggelar aksi unjuk rasa, Selasa (27/11/2018) siang. Mereka menuntut calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto meminta maaf atas pernyataannya tentang tukang ojek yang beberapa hari lalu disampaikan.

Seratusan ojol ini mulai aksinya di Alun-Alun Kota Madiun kemudian melakukan menyampaikan orasi di Balai Kota setempat. Dalam aksi itu, para ojol ini menyampaikan aspirasinya dengan membentangkan sejumlah poster dan spanduk yang berisi "Lebih baik ngojek dari pada ngehoax", "Prabowo wajib minta maaf kepada kami ojek online Madiun", dan lainnya.

Koordinator aksi tersebut, Nanang Dwi Rahono, menegaskan aksi ini untuk menuntut Prabowo meminta maaf atas pernyataannya tentang pekerjaan sebagai tukang ojek. Dia menegaskan aksi ini tidak ada kaitannya dengan politik dan tidak ditunggangi kepentingan politik.

Dia menyampaikan para ojol ini turun aksi karena merasa dilecehkan atas pernyataan Prabowo yang dinilai merendahkan para ojek termasuk ojek online.

"Kami merasa telah dilecehkan. Dihina dan direndahkan sebagai ojek online oleh saudara Prabowo. Sehingga kami merasa terhina sebagai ojol," kata dia kepada wartawan.

Nanang menuturkan bahwa pekerjaannya sebagai tukang ojek merupakan pekerjaan yang mulia dan halal. Selain itu tidak merugikan orang lain.

Untuk itu, para ojek online di Madiun meminta kepada capres 02 Prabowo untuk meminta maaf dan menarik statemen tentang tukang ojek atau melakukan klarifikasi tentang pernyataan yang telah membuat sejumlah kelompok itu merasa meradang dan terhina.

"Harus mau meminta maaf kepada kami. Sehingga kami enggak merasa terhina dan terlecehkan. Sehingga kami bisa bekerja dengan tenang, kondusif, dan enggak ada intimidasi," terang dia.