Perlintasan Ilegal Tempat Kecelakaan KA Vs Truk di Ngawi Segera Ditutup

Ilustrasi perlintasan sebidang tidak resmi. (Antara/Yulius Satria Wijaya)
16 November 2018 18:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Perlintasan kereta api (KA) sebidang yang menjadi lokasi kecalakaan antara kereta api Sancaka dan truk tronton di KM 215+8 Stasiun Kedungbanteng-Walikukun, Ngawi, pada April lalu akan segera ditutup.

Perlintasan KA tanpa palang pintu itu masih dimanfaatkan untuk pembangunan proyek double track kereta api.

Manajer Humas Daops VII Madiun, Ixfan Hendriwintoko, mengatakan akhir tahun ini direncanakan perlintasan KA sebidang di Kedungbanteng, Ngawi, akan ditutup. Perlintasan ini ditutup karena ilegal dan menjadi lokasi peristiwa kecelakaan antara KA Sancaka dan truk tronton April 2018 lalu.

Dia menuturkan sejak peristiwa kecelakaan yang menyebabkan masinis KA Sancaka meninggal dunia itu, perlintasan ilegal itu masih dibuka. Perlintasan itu menjadi akses bagi truk pengangkut material proyek double track di wilayah tersebut.

"Masih ada manuver pekerjaan jalur ganda. Tapi saat ini perlintasan ilegal itu dijaga petugas satker," ujar dia kepada wartawan, Jumat (16/11/2018).

Ixfan menyampaikan selain akan menertibkan perlintasan ilegal di Kedungbanteng, Ngawi. PT KAI Daops VII Madiun juga akan menutup puluhan perlintsan ilegal lain yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.

Di wilayah Daops VII ada 270 perlintasan resmi yang dijaga maupun sudah dipasangi early warning system (EWS). Sejak tahun 2017, PT KAI bakal menutup 125 perlintasan ilegal. Namun, sampai saat ini baru 86 perlintasan sebidang ilegal yang berhasil ditutup. Sedangkan perlintasan ilegal lainnya belum ditutup.

Menurut dia, salah satu hambatan penutupan perlintasan sebidang ini karena adanya penolakan dari masyarakat. Penolakan terjadi karena menganggap perlintasan itu bermanfaat dan menjadi akses masyarakat.

Padahal, perlintasan sebidang ilegal ini sangat berbahaya baik bagi warga yang melintas maupun kereta api.

"Ada penolakan dari warga. Alasannya karena menjadi akses operasional antar jemput anak sekolah. Kemarin ada di dekat Stasiun Garum Blitar. Kalau ada penolakan ya kami akan lakukan pendekatan dengan pemerintah setempat," jelas Ixfan.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya