Sekolah Penerbangan Indonesia Dinilai Perlu Belajar Navigasi dari Australia

Seorang pegawai AirNav sedang mengamati pergerakan pesawat di Air Traffic Controller Working Positions Bandara Supandio Pontianak. - Bisnis.com/Rio Sandy Pradana.
09 November 2018 02:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Direktur Utama Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau Airnav Indonesia, Novie Riyanto, sekolah-sekolah penerbangan di Indonesia bisa belajar dari Australia untuk teknologi navigasi.

Bahkan, saran dia, Indonesia bisa menyerap ilmu dari Prancis dan Amerika Serikat (AS) yang memiliki industri penerbangan bagus.

"Kita akan banyak belajar dari negara tetangga seperti Australia, yang merupakan negara besar, sedikit penduduknya, tapi teknologinya bagus," ujarnya seusai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kementerian Perhubungan, Kamis (8/11/2018).

Novie Riyanto mengatakan Indonesia merupakan negara besar yang memiliki banyak penduduk sehingga transportasi udaranya pun semakin padat.

"Ke depan, kita tidak bisa menutup diri dan harus terbuka dan rela untuk diaudit orang lain, disalahkan tapi demi kebaikan," ucapnya.

Novie menjelaskan saat ini transportasi udara di Indonesia mengalami pertumbuhan sampai 10%, terutama di daerah-daerah terpencil. Lalu lintas udara pun akan menjadi sangat padat nantinya.

Penerapan teknologi pun tidak bisa dihindari dalam dunia navigasi udara. Contohnya, saat ini arus lalu lintas di bandara Surabaya sudah mencapai 33-35 pesawat dalam satu jam. Kondisi tersebut sudah tidak bisa ditangani secara manual tetapi harus dengan teknologi tinggi.

"Dengan trafik yang begitu padat, pesawat ini sudah seperti nyamuk di atas. Kalau tidak dikelola dan diatur dengan baik, akan sangat sulit. Pesawat bisa tabrakan dan senggolan di atas, lalu bisa delay," terang Novie.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya