Setahun Pascabanjir dan Longsor Pacitan, 3.000 Rumah Rusak Belum Diperbaiki

Wakil Bupati Pacitan, Yudi Sumbogo. (Madiunpos.com/Abdil Jalil)
02 November 2018 16:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Rumah yang mengalami kerusakan dan hancur dalam bencana siklon berupa banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Selasa (28/11/2017) ada sekitar 6.000 unit.

Hingga kini pemerintah baru dapat membangun separuh dari total kerusakan itu atau sekitar 3.000 unit rumah.

Wakil Bupati Pacitan, Yudi Sumbogo, mengatakan upaya perbaikan infrastruktur dan perbaikan rumah rusak akibat bencana telah dilakukan pemerintah. Namun, upaya yang dilakukan memang belum tuntas dan masih banyak yang perlu dibangun dan diperbaiki.

Dia menuturkan jumlah rumah rusak, baik rusak sedang maupun rusak berat akibat bencana alam pada November 2017, ada sebanyak 6.000 rumah. Dalam setahun terakhir, pemerintah telah membangun dan memperbaiki sekitar 3.000 rumah.

"Yang dibangun dan diperbaiki baru separuhnya atau 3.000 rumah. Sedangkan 3.000 rumah lainnya belum dibangun," kata dia seusai mengikuti acara Seminar Investasi Manufaktur dan Pariwisata yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Kediri di Hotel Sun City Madiun, Jumat (2/11/2018).

Sumbogo menuturkan upaya pemulihan masyarakat Pacitan pasca-bencana itu terkendala masalah anggaran. Karena untuk pembangunan maupun perbaikan permukiman mengandalkan anggaran dari pemerintah pusat.

Namun, saat ini bencana besar juga menimpa di berbagai daerah di Indonesia seperti di Lombok, Palu, hingga Donggala. Sehingga, konsentrasi penanganan bencana beralih ke wilayah-wilayah yang baru ditimpa bencana.

"Pemerintah pusat tentu masih konsentrasi untuk menyelesaikan permasalahan di Lombok dan Palu. Pacitan rumah yang diperbaiki baru separuh," terang dia.

Untuk revitalisasi ini memang mengandalkan anggaran bantuan dari pemerintah pusat. Pemerintah daerah tidak mungkin menggunakan APBD untuk melakukan revitalisasi ini.

APBD Kabupaten Pacitan tahun 2018 hanya sekitar Rp1,6 triliun. Anggaran ini sebagian besar dimanfaatkan untuk membayar gaji pegawai dan belanja kebutuhan selama setahun.

Selain perbaikan permukiman rakyat, 12 jembatan gantung yang putus akibat bencana banjir bandang itu telah diperbaiki. Perbaikan jembatan itu penting karena menjadi salah satu akses utama masyarakat di pedesaan.

"Tahun ini kami juga mendapat bantuan dari Pemprov Jawa Timur untuk perbaikan rumah tidak layak huni. Biasanya kami dapat jatah 300 rumah, tahun ini bisa lebih. Seluruh rumah yang diperbaiki yaitu diprioritaskan rumah korban bencana alam," terang Sumbogo. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya