Cabai Merah Bikin Jatim Inflasi 0,19% pada Oktober 2018

Ilustrasi Inflasi - Solopos/Whisnupaksa Kridangkara
02 November 2018 00:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) mencatat kenaikan harga komoditas cabai merah dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya inflasi di provinsi setempat pada Oktober 2018 yang tercatat sebesar 0,19 persen.

"Kenaikan harga terjadi akibat tingginya permintaan, sementara pasokan cabai merah tidak cukup untuk memenuhi permintaan di pasar. Situasi ini menjadikan cabai merah menjadikan salah satu komoditas pendorong utama inflasi Jatim," kata Kepala BPS Jatim Teguh Pramono di Surabaya, Kamis (1/11/2018).

Dalam paparan data inflasi bulan Oktober 2018, Teguh menjelaskan ada tiga komoditas utama pendorong inflasi Jatim, yakni bahan bakar minyak (BBM), emas perhiasan, dan cabai merah.

Untuk BBM, sejak 10 Oktober 2018 pemerintah resmi melakukan penyesuaian harga jual BBM jenis pertamax series (pertamax dan pertamax turbo), dex series (pertamina dex dan dexlite), serta bio solar nonsubsidi, sehingga hal ini membuat komoditas bensin menjadi pendorong utama terjadinya inflasi Oktober 2018.

Sedangkan perhiasan, lebih diakibatkan gejolak pasar di Jatim yang menjadi faktor pendorong inflasi. Teguh mengatakan, dari tujuh kelompok pengeluaran yang dipantau di Jatim, enam kelompok di antaranya mengalami inflasi dan hanya satu kelompok yang mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi tercatat di kelompok sandang sebesar 0,56 persen, diikuti kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,42 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,23 persen.

Sementara itu, kelompok makanan jadi, seperti minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,17 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,15 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,04 persen.

Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi yaitu bahan makanan sebesar 0,12 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas yang menjadi penghambat terjadinya inflasi adalah telur ayam ras, tomat sayur, dan daging sapi. "Pada Oktober, harga telur ayam ras terus mengalami penurunan disebabkan banyaknya produksi telur yang tidak diimbangi dengan penyerapan di pasar," katanya.

Harga beberapa sayuran juga turun, terutama tomat sayur yang harganya turun cukup drastis, seiring melimpahnya produksi yang bersamaan waktu panen di beberapa daerah penghasil tomat.

Sementara itu, berdasarkan penghitungan angka inflasi di delapan kota yang menjadi acuan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur selama Oktober 2018, seluruh kota mengalami inflasi dan tertinggi tercatat di Malang dan Sumenep mencapai 0,30 persen.

Diikuti Jember sebesar 0,24 persen, Probolinggo 0,20 persen, Madiun 0,18 persen, Kediri 0,16 persen, Surabaya 0,15 persen, dan Banyuwangi 0,09 persen.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara