Prabowo Dapat Kaligrafi Al-Fatihah dari Pengasuh Ponpes Magetan

Pengasuh Ponpes Sabilil Muttaqien K.H. Miratul Mukminin atau Gus Amik (kanan) memberikan kaligrafi surat Al-Fatihah kepada calon presiden Prabowo Subianto di PSM Takeran, Magetan, Rabu (31/10 - 2018). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
01 November 2018 06:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MAGETAN -- Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, memberikan 200 eksemplar buku berjudul Paradoks Indonesia kepada santri dan kiai di Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM), Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, Rabu (31/10/2018).

Buku Paradoks Indonesia merupakan buku karangan Prabowo Subianto yang berisi buah pemikirannya tentang Indonesia. Buku itu diberikan kepada para kiai dan santri saat Prabowo mengunjungi pondok pesantren tersebut, Rabu.

Sedangkan pihak PSM memberi Prabowo sebuah kenang-kenangan berupa kaligrafi surat Al-Fatihah. Kaligrafi tersebut diserahkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien K.H. Miratul Mukminin atau Gus Amik kepada Prabowo Subianto.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menyampaikan paradoks berarti kejanggalan. Melalui buku tersebut, Prabowo ingin menunjukkan banyak kejanggalan terjadi di negara tercinta Indonesia. Pemikirannya tentang kejanggalan itu muncul saat 20 tahun lalu. Negara yang kaya sumber daya alam seperti Indonesia ini justru banyak terdapat masyarakat miskin.

"Kekayaan sumber daya alam kita tidak ada tandingannya. Kecuali Amerika Serikat, Kanada, Brasil. Oleh badan-badan dunia, negara kita digolongkan sebagai negara kaya sumber daya alam keenam di dunia," jelas Prabowo.

Namun, di tengah kekayaan sumber daya alam yang dimiliki ternyata rakyatnya banyak yang miskin. Menurut dia, ini menjadi sebuah kejanggalan.

Ketua Umum Partai Gerindra itu juga menegaskan buku Paradoks Indonesia merupakan sumbangan pemikirian dan pandangannya. Buku ini, kata dia, telah beredar dua tahun terkahir.

Lebih lanjut, Prabowo menyampaikan Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi yaitu sistem berasas kedaulatan rakyat. Untuk itu, keputusan penting bangsa ini harus diputuskan oleh rakyat.

Para pendiri bangsa tidak memilih sistem kerajaan, oligarki, maupun aristokrasi dalam sistem pemerintahan negara.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya