Air Waduk Sangiran Ngawi Susut 50%, Ini Dampaknya

Warga di tepian Waduk Sangiran di Dusun Bowan Timur, Desa Sumber Bening, Karangjati, Ngawi, antre mengambil air di sendang area hutan KPH Saradan. (Antara/Istimewa)
05 Oktober 2018 16:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, NGAWI -- Debit air di Waduk Sangiran yang berlokasi di Desa Sumber Bening, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menyusut drastis selama musim kemarau 2018. Penurunan ketinggian air di waduk tersebut diperkirakan telah mencapai 50% lebih.

Kasi Bidang Operasi Pemeliharaan dan Bina Manfaat, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Ngawi, Rachmat Fitriyanto, kepada wartawan di Ngawi, Kamis (4/10/2018), mengatakan penurunan ketinggian air dan pendangkalan selalu terjadi di Waduk Sangiran ketika musim kemarau berlangsung.

Karena debit air telah menurun drastis, waduk tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk mengairi sawah seluas 1.535 hektare yang ada di Kecamatan Bringin dan Karangjati.

"Akibatnya sejumlah lahan pertanian yang nekat ditanami padi oleh petani di wilayah Bringin dan Karangjati mengalami gagal panen," ungkap Rachmat Fitriyanto. Hingga kini pihak Pemkab Ngawi masih mendata jumlah luasan sawah yang mengalami gagal panen di kawasan setempat.

Sementara, kondisi waduk yang terus menyusut dimanfaatkan warga sekitar untuk menggembala ternak kambing ataupun mencari ikan di air yang tersisa.

Warga sekitar Waduk Sangiran Ngawi berharap musim kemarau segera berakhir sehingga kondisi air waduk kembali normal. Sebab, surutnya air Waduk Sangiran juga berdampak pada warga desa sekitar yang kesulitan mendapatkan air.

Seperti warga di Dusun Bowan Timur, Desa Sumber Bening, Kecamatan Bringin, yang harus masuk ke areal hutan milik KPH Saradan sejauh 2 kilometer dari rumah untuk mendapatkan air. Hal itu terpaksa dilakukan karena sumur warga mengering dan air Waduk Sangiran terus menyusut.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara