Turis Asing ke Jatim Bertambah Tapi Okupansi Hotel Merosot

Aktivitas di Bandara Juanda Surabaya, Jawa Timur. (Bisni/Paulus Tandi Bone)
03 Oktober 2018 00:05 WIB Peni Widarti Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Timur beberapa waktu terakhit mengalami pertumbuhan hingga 25,7%. Tetapi kenaikan tersebut tidak sebanding dengan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Jatim yang merosot 1,21 poin.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono, mengatakan jumlah kunjungan wisman yang datang melalui bandara Juanda pada Agustus 2018 mencapai 34.166 kunjungan atau naik 25,7% dibandingkan Juli 2018.

"Bahkan jika dibandingkan dengan periode yang sama tingkat kunjungannya tumbuh 34,88%," katanya saat acara Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (1/10/2018), di Surabaya.

Adapun wisman kebanyakan yang datang ke Jatim yakni berasal dari Malaysia 24,40%, disusul Singapura 8,81%, dan China 5,16%, lainnya dikunjungi oleh wisman Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, Jepang, India, Korea Selatan, dan Hong Kong.

Namun, kata dia, peningkatan kunjungan ini tidak sebanding dengan tingkat hunian hotel yang justru turun 1,21 poin. BPS mencatat TPK hotel pada Agustus ini hanya mampu mencapai 57,67%. TPK hotel bintang 4 bisa menembus angka 62,71%.

"Ini memang aneh, kunjungan naik tapi hunian hotel turun. Jadi perkiraan kami, wisatawan ini hanya mendarat saja di Jatim dan sebetulnya mereka wisatawan yang mau ke Bali dan Lombok. Apalagi sebelumnya berbulan-bulan ada gangguan bencana Lombok," jelasnya.

Menanggapi kondisi tersebut Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Jawa Timur menyatakan kondisi pariwisata di Jatim tahun ini memang kurang menggembirakan, meski ada peningkatan tetapi tidak signifikan.

Ketua Dewan Pengawas Tata Krama (Depeta) Asita Jatim, Nanik Sutaningstyas mengatakan saat ini kencenderungan masyarakat lebih suka melakukan tour ke luar negeri dibandingkan di dalam negeri lantaran banyak serbuan paket tour ke luar negeri yang murah-murah.

"Hal ini rupanya sudah dipahami oleh pihak terkait yang membidanginya seperti Singapore Tourism, Hongkong Tourism, Malaysia Tourism, Thailand Tourism bahkan baru-baru ini juga India Tourism berbondong-bondong datang ke Jatim untuk promosi," ujarnya kepada Bisnis/JIBI.

Bahkan, promosi yang dilakukan juga didukung oleh airlines yang membuat paket tour ke luar negeri menjadi lebih murah. Kondisi ini membuat masyarakat pun lebih tertarik untuk membeli paket wisata luar negeri.

Menurut Nanik, pemerintah harus menyikapinya dengan memperbanyak fasilitas dan membangun infrastruktur yang bagus di bidang kepariwisataan sebagai akses menuju destinasi pariwisata, seperti jalan atau fasilitas lain di daerah objek wisata tersebut.

"Pemerintah juga harus berusaha seperti memberi stimulan di bidang tours, contohnya Dishub Jatim membuka rute kapal dari Probolinggo ke Madura, Gili Labak, Gili Genting, Gili Iyang karena itu obyek wisata potensial sehingga bisa menggandengkan objek primadona Jatim Bromo ke Madura," jelasnya.

Nanik mengungkapkan Gili Labak, Gili Iyang atau Pantai Sembilan merupakan objek wisata yang sangat indah dan tidak kalah dengan Gili Trawangan. Bahkan Gili Iyang menjadi nomor 2 di dunia yang memiliki oksigen murni yang membuat masyarakatnya bisa hidup di atas 100 tahun. Hanya saja, masyarakat belum banyak yang tahu.

Meski begitu, lanjut Nanik, Asita mengapresiasi terobosan Dishub Jatim yang telah membuka jalur wisata baru di bidang laut ke objek-objek wisata di Jatim. Menurutnya bukan hanya menumbuhkan wisata tapi juga membuka jalan agar daerah/pulau tidak terisolir bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Nanik menambahkan dengan pembukaan rute tersebut diyakini Madura bisa menjadi destinasi wisata baru yang dituju wisatawan setelah tour dari Bromo. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya