Waduk Saradan Madiun Kering di Musim Kemarau, Ini Sebabnya

Warga mencari ikan di Waduk Saradan, Kabupaten Madiun, Jumat (28/9 - 2018). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
29 September 2018 08:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Debit air di Waduk Saradan di Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, mulai menyusut sejak bulan Juni 2018. Selama  musim kemarau, debit air setiap hari surut hingga akhirnya pada akhir September ini Waduk Saradan nyaris kering.

Waduk Saradan mengering saat musim kemarau sudah menjadi rutinitas setiap tahun. Saat air di waduk hampir habis, selalu dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mencari ikan.

Pengelola Waduk Saradan, Aris Nurdiyanto, mengatakan sumber air Waduk Saradan yaitu dari air hujan. Biasanya saat musim penghujan, air di waduk itu penuh karena sumber airnya banyak. Namun, saat memasuki musim kemarau sumber air sudah tidak ada sehingga air terus menyusut hingga kering.

"Setiap musim kemarau memang seperti ini. Selalu kering. Warga sekitar waduk banyak yang datang ke waduk untuk mencari ikan," terang dia saat ditemui madiunpos.com di kantornya, Jumat (28/9/2018).

Aris Nurdiyanto menuturkan saat ini ketinggian air di waduk hanya tersisa 1 meter. Itu pun sebagian sudah tertutup sedimentasi yang cukup tebal.

Waduk Saradan ini berfungsi untuk menampung air hujan dan untuk kebutuhan irigasi pertanian 11 desa di wilayah Saradan, Kabupaten Madiun.

Meski waduk mengering, ujar Aris, para petani di sekitar waduk tidak kesulitan untuk mendapatkan air. Hal ini karena petani sudah membangun sumur dalam untuk pengairan sawah mereka.

Lebih lanjut, warga mencari ikan di waduk sudah tiga hari ini. Mereka menggunakan berbagai alat untuk mencari ikan di waduk yang mulai mengering.

"Ada beberapa jenis ikan yang ada di waduk yaiti nila, betik, kutuk, wader, dan lainnya. Sejauh ini tidak menimbulkan gejolak. Sudah tiga hari ini warga mencari ikan di waduk," jelas dia. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya