Harga Gabah Panenan Petani di Lahan Banjir Bojonegoro Rp5.200/Kg

Warga mengeringkan gabah. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
18 September 2018 00:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, BOJONEGORO -- Gabah yang dihasilkan petani di lahan banjir luapan Bengawan Solo di sejumlah kecamatan di Bojonegoro, Jawa Timur, dihargai Rp5.200/kilogram gabah kering panen (GKP). Angka itu lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yaitu hanya Rp4.000/kilogram GKP.

Kepala Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor, Bojonegoro, Sya'roni, di Bojonegoro, Sabtu (15/9/2018), menjelaskan harga gabah panen tanaman padi di lahan banjir di desanya cenderung meningkat, karena sebelum itu harganya Rp5.000/kilogram GKP.

"Meningkatnya harga gabah panen tanaman padi di lahan banjir, karena memang kualitasnya bagus, selain tanaman padi tidak diserang hama," ucapnya.

Ia menyebutkan di desanya luas tanaman padi di lahan banjir sekitar 250 hektare sudah panen sejak dua pekan terakhir. Tanaman padi di desanya itu memperoleh air dari Bengawan Solo dengan sistem pompanisasi bekerja sama dengan BUMdes di desanya.

BUMDes, lanjut dia, memiliki 30 mesin pompa air, di antaranya, tiga mesin pompa besar untuk mengambil air dari Bengawan Solo, sedangkan lainnya untuk mendistribusikan air ke lahan petani di desanya.

Dalam kerja sama itu, polanya bagi hasil dibagi tujuh bagian dengan pembagian satu bagian untuk BUMdes dan enam bagian untuk pemilik sawah.

Pada musim panen kemarau ini, menurut perhitungannya, BUMDes memperoleh pemasukan lebih dari Rp1,5 miliar, dipotong biaya operasional sebesar Rp600 juta.

"Penanganan pompanisasi melibatkan 20 tenaga kerja. Desa-desa lainnya di Kecamatan Kanor, pompanisasi juga ditangani BUMDes, seperti Desa Kedungarum, dan Temu," ucapnya.

Seorang petani di Desa Temu, Kecamatan Kanor, Bojonegoro Suhadi menambahkan petani di sejumlah desa di Kecamatan Kanor, juga Baureno dan Balen, sekarang ini panen tanaman padi.

Keluarganya memiliki empat petak sawah di lahan banjir dengan pendapatan mencapai Rp32 juta belum termasuk gabah yang disimpan untuk dimakan sendiri.

"Setelah istirahat sebulan petani kembali menanam padi menunggu musim hujan dengan risiko ketika panen bersamaan dengan datangnya banjir Bengawan Solo," kata dia.

Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro Akhmad Jupari menambahkan areal pertanian di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo yang bisa panen di musim kemarau luasnya bisa sekitar 15.000 hektare.

"Meskipun kemarau areal lahan banjir Bengawan Solo tetap panen tanaman padi ketika kemarau," ucapnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara