Pria Madiun Ubah Kayu Peti Kemas Jadi Alat Musik Eksotis

Erwan Prasetyo atau Wawan memainkan cello yang terbuat dari kayu peti kemas buatannya, Sabtu (15/9 - 2018). (Madiunpos.com/AbdulJalil)
16 September 2018 04:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Siapa sangka kayu bekas peti kemas bisa dijadikan alat musik bernilai estetik dan ekonomis tinggi. Di tangan Erwan Prasetyo, 54, kayu-kayu bekas peti kemas itu diubah menjadi alat-alat musik yang cantik dan indah serta berharga mahal.

Warga RT 013/RW 005, Kelurahan Kejuron, Kota Madiun, itu telah menghasilkan belasan alat-alat musik gesek dan petik seperti cello/selo, ukulele, kentrung, biola, cak, dan cuk. Semua alat-alat musik yang diproduksinya memanfaatkan bahan-bahan dari peti kemas.

Wawan, sapaan akrabnya, saat ditemui Madiunpos.com di rumahnya, Sabtu (15/9/2018), menceritakan dirinya baru melakoni sebagai pengrajin alat musik sejak setahun lalu. Ilmu membuat alat musik itu pun hanya melalui video-video di Youtube.

Kemudian dengan cara mandiri, Wawan mencoba membuat alat-alat musik itu sendiri.

"Saya belajar membuat alat musik seperti biola, selo, dan lainnya itu dari Youtube. Saya cuma belajar dari situ. Kemudian saya mempraktikkannya dan ternyata bisa," jelas pria yang juga menjadi ketua RT 013 itu.

Dia menggunakan peralatan seadanya yang tersedia di rumah, seperti tatah maupun gergaji. Sedangkan bahan bakunya, ia memilih kayu bekas peti kemas. Menurut dia, jenis kayu yang digunakan untuk peti kemas cocok untuk digunakan sebagai alat musik petik maupun gesek karena nada yang dihasilkan sangat pas dan indah saat alat musik itu dimainkan.

Selain itu, Wawan nekat untuk membuat alat musik ini karena ingin memiliki alat musik yang sesuai keinginannya. 

Kayu peti kemas atau yang biasa disebut jati londo itu gampang-gampang susah mencarinya. Karena tidak semua toko bangunan maupun toko kayu menjualnya.

"Satu lembar kayu peti kemas dengan ketebalan 7 cm dan lebar 30 cm serta panjang 3 meter seharga Rp150.000. Itu biasanya bisa untuk satu alat musik ukuran kecil," jelas dia.

Dua Pekan

Wawan mengaku untuk membuat alat musik itu memang dibutuhkan ketelitian dan kesabaran. Dia membutuhkan waktu sekitar dua pekan untuk membuat satu alat musik.

Bapak satu anak ini bercerita dirinya sudah lama masuk di dunia seni musik. Bakatnya di dunia seni musik itu merupakan warisan dari ayah dan kakeknya yang juga sebagai seniman musik keroncong.

Selama ini, Wawan bersama beberapa orang eksis sebagai musisi keroncong di grup Orkes Keroncong Chandra Buana Madiun. Ia mengaku sudah sejak usia belasan tahun terjun di dunia keroncong dan mengaku jatuh hati.

Puluhan panggung di berbagai daerah di Indonesia seperti Kalimantan, Surabaya, Solo, Ngawi, Nganjuk, dan lainnya pernah menjadi tempatnya berunjuk gigi untuk menampilkan musik keroncong. Ia pun kerap menggung di acara-acara pernikahan di wilayah Madiun Raya.

Pengalamannya dalam memainkan alat musik petik dan gesek selama puluhan tahun pun menjadi bekal dalam kegiatannya saat ini, membuat alat musik keroncong. Sehingga, tak heran saat awal-awal mencoba membuat alat musik langsung berhasil.

"Alat musik saya ini banyak diambil dari pemusik lokal sini. Cello buatan saya juga dilirik orang Brunei Darussalam. Saat ini masih komunikasi," ujar Wawan yang memiliki pekerjaan sebagai pembuat taman ini.

Meski karya seninya tak diragukan lagi, namun Wawan mengaku kesulitan untuk memproduksi secara massal alat-alat musik keroncong tersebut. Salah satu kendalanya yakni ketersediaan alat produksi dan bahan baku.

"Saya selama ini membuat alat musik ini di rumah. Itu sangat tidak efektif. Karena membuat alat musik itu butuh tempat. Selain itu juga ga ada alatnya. Selama ini saya hanya menggunakan alat seadanya. Padahal kalau produksi massal kan perlu alat yang modern," terang dia.

Harga alat musik keroncong yang dijualnya bervariasi tergantung jenis dan besarannya, mulai dari harga Rp800.000 hingga Rp5 juta. Paling mahal yaitu harga selo buatannya yang mencapai Rp5 juta.

Lanataran masih terkendala berbagai hal, Wawan belum berani membuka promosi secara luas. Ia hanya menerima pesanan saja dan tidak berani menyetok barang jadi.

"Kalau untuk bahan baku sekarang agak susah. Biasanya diganti dengan kayu nangka sama waru. Itu kualitasnya juga bagus untuk alat musik," jelas Wawan. 

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya