Ribuan Orang Bertapa di Lawu Saat Sura, Ini yang Dilakukan

Pintu jalur pendakian Cemoro Sewu Magetan masih ditutup, Rabu (12/9 - 2018) sore. (Solopos/Abdul Jalil)
13 September 2018 18:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MAGETAN -- Gunung Lawu berubah sangat ramai saat menjelang malam 1 Sura hingga selama sebulan penuh di bulan Sura. Ribuan orang menepi dan bertapa di puncak Lawu pada bulan tersebut.

Ada banyak mitos yang berkembang di puncak Lawu. Tradisi bertapa untuk menyucikan diri di puncak Lawu sudah berlangsung turun temurun oleh warga Jawa. Kepercayaan terhadap kekuatan magis di kawasan Gunung Lawu masih terjaga.

Warga yang hendak melakukan pertapaan dan ritual harus berjuang untuk menuju puncak Lawu yang memiliki ketinggian 3.100 meter di atas permukaan laut via Cemoro Sewu, Magetan. Lokasi yang biasanya digunakan sebagai tempat pertapaan maupun menjalankan ritual yakni di Hargo Dalem.

Menurut legenda, Hargo Dalem merupakan tempat petilasan Raja Majapahit Brawijaya V saat melakukan moksa. Kepala Dusun Cemoro Sewu, Plaosan, Magetan, Agus Suwandono, mengatakan petilasan Hargo Dalem berada di pos 5 atau sekitar 200 meter dari puncak Lawu.

Lama waktu pertapaan beragam, ada yang satu hari, sepekan, 15 hari, bahkan ada yang sebulan berada di Hargo Dalem. Sura dianggap waktu paling baik untuk melakukan pertapaan di petilasan Brawijaya V itu.

Para petapa biasanya membawa sesajen seperti bunga tujuh rupa hingga dupa. Bahkan ada warga yang membawa kambing ke Hargo Dalem. Kambing itu disembelih dan dimasak kemudian disantap di puncak.

"Beberapa tahun lalu, ada warga yang membawa sapi ke Hargo Dalem. Tapi karena sapi tidak kuat melanjutkan perjalanan akhirnya disembelih di bawah," ujar dia saat berbincang dengan Madiunpos.com di pos masuk jalur pendakian Cemoro Sewu, Rabu (12/9/2018).

Warga yang membawa hewan ternak ke Hargo Dalem itu untuk mencari keberkahan. Selain membawa hewan, ada juga warga yang ke Hargo Dalem membawa pusaka seperti keris.

Ada banyak alasan yang dilontarkan warga saat melakukan ritual di Hargo Dalem. Ada yang ingin mencari kewibawaan, untuk mencari tolak bala, atau untuk mencari ketenangan batin.

"Dulu raja Brawijaya V kan moksa di Hargo Dalem. Raja Brawijaya ingin meninggalkan duniawi dengan melakukan perjalanan spiritual di Lawu. Begitu juga warga, ada yang ingin mencari ketenangan batin," ujar dia.

Agus menceritakan kalau dulu orang yang ingin melakukan perjalanan spiritual di Lawu harus membawa bekal banyak karena lama waktu untuk bertapa, kini tak perlu lagi. Warga hanya perlu membawa uang karena di puncak Lawu ada warung yang menyediakan logistik.

Dia menuturkan sebagian besar petapa yang melakukan ritual di puncak Lawu datang dari wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun, ada mitos yang menyebutkan anak keturunan pemimpin Cepu dan Bojonegoro pada zaman Majapahit tidak boleh melakukan perjalanan spiritual ke Hargo Dalem.

"Ada mitos orang Cepu dan Bojonegoro tidak boleh naik ke Lawu. Tapi tidak semua orang Cepu dan Bojonegoro dilarang. Itu ada ceritanya," jelas dia.