Ini Makna Tradisi Larungan di Telaga Ngebel Ponorogo

Satu tumpeng agung berisi beras merah dan lauk dilarung di Telaga Ngebel saat peringatan 1 Sura di Telaga Ngebel Ponorogo, Selasa (11/9 - 2018).(Solopos/Abdul Jalil)
12 September 2018 12:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, PONOROGO -- Larungan di Telaga Ngebel memiliki makna spiritualitas tinggi bagi masyarakat Ponorogo, khususnya yang tinggal di kawasan Telaga Ngebel. Larungan ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas kenikmatan yang telah diberikan Tuhan selama satu terakhir.

Larungan di Telaga Ngebel ini menjadi salah satu agenda budaya yang setiap tahun digelar yaitu setiap tanggal 1 Sura atau Tahun Baru Hijriah. Sebelum tradisi larungan digelar, malam harinya masyarakat menggelar ritual di kawasan Telaga Ngebel dengan menyalakan sekitar 1.000 obor.

Ketua Panitia Larungan Telaga Ngebel, Suryadi, mengatakan tradisi larungan 1 Sura sudah menjadi tradisi. Ada makna yang terkandung dalam tradisi yang telah turun temurun itu. Seperti adanya dua tumpeng agung yang dikirab mengelilingi telaga. Itu merupakan bentuk rasa sukyur atas rahmat dari Tuhan.

Dari dua tumpeng yang disediakan, satu tumpeng dilarung ke telaga dan satu tumpeng berisi buah dan sayuran diperebutkan masyarakat. Sedangkan delapan tumpeng kecil seluruhnya diperebutkan masyarakat.

“Ini bentuk rasa syukur kami terhadap kenikmatan yang diberikan Tuhan. Tadi malam kami juga melakukan ritual dengan menyalakan seribu obor dan berziarah di makam kuno di Ngebel,” jelas dia.

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, mengatakan satu tumpeng dilarung di Telaga Ngebel ini memiliki arti supaya seluruh kotoran dan sifat-sifat buruk rontok saat memasuki tahun baru.

Ipong menyebut antusiasme masyarakat untuk melihat dan menikmati tradisi ini cukup tinggi. Tradisi tersebut bisa menjadi salah satu obyek wisata untuk memperkuat pariwisata Ponorogo.

Larungan Telaga Ngebel ini berdasarkan legenda asal muasal Telaga Ngebel. Tradisi ini bisa menjadi modal untuk memperkuat pariwisata di Ponorogo. seperti di Bali, tradisinya kan uga kuat. Kita akan kembangkan terus,” jelas Ipong.

Pemerintah berjanji akan memperbaiki sarana dan prasarana yang ada di Telaga Ngebel. Menurut dia, selama ini salah satu kekurangan di obyek wisata ini adalah faktor sarana dan prasarana.

Tokopedia