Pengusaha Jatim Diminta Tunda Liburan ke Luar Negeri Demi Jaga Rupiah

Ilustrasi menghitung uang rupiah. (Bisnis/Dwi Prasetya)
07 September 2018 18:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur (Jatim) diminta menunda liburan ke luar negeri demi menyelamatkan rupiah yang terus merosot.

"Yang ingin liburan ke luar negeri, ya ditunda dulu, menunggu gejolak kurs mereda. Intinya, dijaga jangan sampai permintaan akan dolar AS terus naik. Ya liburan saja di dalam negeri, semuanya indah kok, dari Gunung Bromo, Kawah Ijen, Kota Batu, sampai pantai-pantai di Pacitan," kata Ketua Kadin Jatim, La Nyalla Mahmud Mattalitti, di Surabaya, Kamis (6/9/2018).

La Nyalla mengatakan banyak hal sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk bisa menyelamatkan rupiah agar tidak terus merosot, salah satunya menunda liburan ke luar negeri.

La Nyalla Matalitti mengatakan rupiah harus dijaga, dan kalau terus anjlok, ekonomi nasional bisa terancam. "Oleh karena itu, mari saling bantu. Lupakan dulu Anda pendukung Jokowi dua peridode atau pendukung ganti presiden," katanya.

Dia memaparkan sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk ikut menjaga rupiah bagi masyarakat dan dunia usaha adalah bagi pengusaha yang masih menyimpan dolar AS segera dikonversi ke rupiah.

"Jadi tidak hanya devisa hasil ekspornya dibawa ke Indonesia, tapi sudah harus dikonversi ke rupiah. Kita juga minta pengusaha untuk lakukan lindung nilai (hedging) saat bertansaksi valas. Saya sampaikan ke teman-teman pengusaha, yang tidak buru-buru butuh dolar AS, jangan panik beli sekarang, pakai saja fasilitas swap BI. Faktor psikologi di pasar seperti ini perlu kita jaga," katanya.

La Nyalla juga mengimbau masyarakat untuk menunda membeli beragam perangkat elektronik yang komponennya masih impor.

"Ini agar neraca kita tidak semakin defisit, yang artinya kita keluarkan dolar lebih banyak daripada menerima dolar. Juga kurangi belanja produk-produk konsumtif di merchant milik asing karena hasilnya nanti capital outflight, dolar AS terbang ke luar negeri," ujar pengusaha bahan baku konstruksi tersebut.

La Nyalla juga mengajak untuk intens menggunakan transportasi publik yang bisa menekan konsumsi BBM.

"Indonesia masih impor minyak sekitar 400.000 barel per hari. Dan itu butuh dolar AS. Mei lalu, impor migas kita 2,81 miliar dolar AS, angka yang besar. Kalau ramai-ramai naik transportasi publik, konsumsi BBM berkurang, kita bantu Pertamina dan negara ini," katanya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Tokopedia

Sumber : Antara