1.230 Personel Gabungan Disiagakan Saat Suroan di Madiun

Personel gabungan TNI, Polri, Dishub, dan Satpol PP mengikuti Apel Gelar Pasukan Operasi Aman Suro 2018 di Alun-alun Kota Madiun, Jumat (7/8 - 2018). (Istimewa/Pemkot Madiun)
07 September 2018 16:05 WIB Abdul Jalil Madiun Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Sebanyak 1.230 personel gabungan akan disiagakan selama kegiatan Operasi Aman Suro 2018. Kegiatan operasi ini lebih khusus untuk menjaga kondusivitas keamanan Kota Madiun saat para pesilat dari berbagai daerah datang untuk menggelar ritual tahunan itu.

Operasi ini akan dilaksanakan selama sebelas hari dan dibagi menjadi dua tahap. Pertama, tanggal 8-14 September 2018 difokuskan untuk kegiatan Nyekar Agung ke makam leluhur Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Kedua, pengamanan kegiatan Suran Agung rencananya digelar 21-25 September 2018 untuk para pesilat PSHW.

Kapolres Madiun Kota, AKBP Nasrun Pasaribu, mengatakan 1.230 personel gabungan itu terdiri atas anggota Polri, TNI, Dishub, dan Satpol PP. Mereka akan disiagakan di sejumlah titik yang dianggap rawan terutama di pintu masuk Kota Madiun.

Selain itu, petugas juga bersiaga di sejumlah jalan tikus atau jalan alternatif untuk menuju tempat pemakaman sesepuh para pesilat di Kota Madiun. Pengamanan tetap dilaksanakan, meskipun sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan perguruan silat untuk tidak memobilisasi massa ke Kota Madiun.

"Kamu siapkan pengamanannya. Kalau ada yang nekat masuk ya akan kita kembalikan ke daerahnya masing-masing. Untuk itu, apel ini kita laksanakan bersama Polres jajaran Korwil V dan Polres Nganjuk," jelas dia seusai menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Aman Suro 2018 di Alun-alun Kota Madiun, Jumat (7/8/2018).

Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto meminta kepada seluruh pesilat untuk mematuhi komitmen bersama dalam perayaan 1 Sura tahun 2018. Tidak ada pengerahan massa ke wilayah Kota Madiun untuk peringatan Suroan dan Suran Agung.

"Keamanan merupakan akar dari segala bidang. Ini merupakan tanggung jawab bersama. Penting kiranya mendahulukan keamanan di atas kepentingan lain," kata Sugeng.

Dia menuturkan saat ini bangsa dan negara akan melaksanakan hajatan besar yaitu Pileg dan Pilpres pada tahun 2019. Namun, tahapan kampanye sudah mulai dilakukan pada tahun ini. Sehingga gesekan pun mudah timbul ketika ada pengerahan massa.

‘’Menjaga tradisi itu penting. Tetapi keamanan jauh lebih penting. Kami berharap ini tidak menjadi satu hal yang berlebihan. Ini semata demi keutuhan nusa bangsa,’’ tegasnya.

Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Madiun Moerdjoko Hadi Widjojo menyebut seluruh perguruan menyambut baik keputusan tersebut. Menurut dia, seluruh perguruan siap menjalankan apa yang sudah menjadi komitmen bersama.

Salah satunya tidak ada mobilisasi massa terutama dari luar Kota Madiun. Seluruh perguruan sepakat untuk menjaga keamanan dan stabilitas di bulan Sura.

"Kami siap melaksanakan apa yang menjadi keputusan bersama. Menjaga keamanan jauh lebih penting," terang dia.