Hipmi Jatim Yakin RI Tetap Kokoh Hadapi Pelemahan Rupiah

Ilustrasi menghitung uang rupiah. (Bisnis/Abdullah Azzam)
06 September 2018 04:05 WIB Newswire Madiun Share :

Madiunpos.com, SURABAYA -- Bangsa Indonesia dinilai masih akan tetap kokoh menghadapi pelemahan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini, sebab kondisi fundamental Tanah Air terjaga dengan baik.

"Kami menilai ekonomi Indonesia tetap kokoh dan tidak menjurus ke krisis kendati saat ini rupiah sedang terdepresiasi," kata Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jatim, Mufti Anam, saat dimintai konfirmasi dari Surabaya, Rabu (9/5/2018).

Ia mengatakan kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini masih cukup baik, dengan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, inflasi tahunan terkelola di level 3,2 persen.

"Rating utang Indonesia masih investment grade, bahkan kemarin lembaga rating Fitch tetap pertahankan outlook stable untuk Indonesia. Semua lembaga rating bilang begitu. Artinya, semua risiko ekonomi terkelola dengan baik," katanya.

Mufti Anam mengakui pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan tahun 1998 yang menyebabkan krisis, dan yang membedakan adalah posisi fundamental ekonomi jauh lebih baik dibanding 1998.

Lebih lanjut, dia mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini lebih dikarenakan faktor eksternal terutama gejolak Turki dan Argentina, serta kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

"Jadi memang beda kondisi saat ini dengan 1998. Fundamental ekonomi kita oke hari ini, bahkan kalau dibandingkan dengan negara lain, kita lebih baik. Cadangan devisa pun tinggi, sehingga BI punya cukup ruang untuk intervensi rupiah," katanya.

Saat ini, kata dia, pengelolaan utang valas swasta juga sudah cenderung lebih berhati-hati karena banyak yang telah menggunakan fasilitas hedging (lindung nilai) agar terlindungi dari gejolak nilai tukar.

Di lingkungan HIPMI, kata dia, juga sudah disosialisasikan penggunaan fasilitas swap BI untuk pengusaha yang butuh dolar. Selain itu, pengusaha muda juga sudah konversi dolar ke rupiah, seperti valas hasil ekspor semua dikonversi ke rupiah untuk menjaga ekonomi.

"Kami, dari kalangan pengusaha mengapresiasi responscepat pemerintah dan BI dalam mengelola dinamika kurs. Misalnya, BI langsung menurunkan batas minimal transaksi swap lindung nilai yang mendorong pengusaha memakai fasilitas itu agar terlindungi dari gejolak kurs," katanya.

Juga ada pembatasan impor barang-barang yang tak strategis, peningkatan bahan bakar nabati untuk menekan impor minyak, dan sebagainya.

Semua respons cepat pemerintah dan BI tersebut, kata dia, mampu berdampak psikologis yang membuat dunia usaha yakin risiko nilai tukar saat ini bisa terkelola dengan baik.

"Faktor keyakinan ini penting. Janganlah ada analisis macam-macam bahwa Indonesia menuju jurang krisis. Antisipasi boleh, mengingatkan pemerintah silakan, tapi kami berharap dinamika kurs ini tidak menimbulkan aspek viral negatif ke pasar, yang bisa mengganggu fundamental ekonomi yang sebenarnya cukup kokoh. Be wise, ini Indonesia kita, harus dijaga bersama," katanya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya

Sumber : Antara